The One That Teach Everything
Hallo, Blog.
Sudah berbulan-bulan rasanya saya tidak menulis. Sejak tulisan saya yang terakhir, kini rasanya jari ini agak kaku. Tapi, tidak apa-apa, saya akan tetap menulis. Ngomong-ngomong, ketika tulisan ini dibuat, saya berada di Kombukei bersama pacar saya. Minumannya enak dan musik di sini juga tidak kalah enak. Kami pesan Red Kombucha dan Original Kombucha. Barangkali pembaca mau coba, tempatnya ada di Pasar Bareng.
Kali ini saya akan berbicara tentang sesuatu yang memiliki efek besar dalam hidup saya. Kita selalu bisa belajar dari siapapun dan apapun. Film, buku, dan tak jarang dari permasalahan hidup kita sendiri. Sekarang saya akan menulis tentang bagaimana Friends mengajari saya segalanya. Mulai dari pekerjaan, percintaan, hidup, dan–sekali lagi–segalanya.
Sebagai intermezzo saja, saya tidak berniat untuk mempromosikan series ini. Tapi, kalau kalian sudah menontonnya, lebih baik. Kalau kalian belum menontonnya, segerakanlah. Kalau tidak berniat menontonnya, kalian yakin?
Friends adalah salah satu sitkom yang paling terkenal sepanjang masa. Dengan jalan cerita yang sederhana di mana 6 orang sahabat berkumpul di pusat kota New York menemukan sesuatu dalam hidup dan cinta membuat mereka relevan hingga hari ini. Friends adalah series favorit yang tidak akan pernah bosan untuk saya tonton. Meski sudah tamat hingga season 10, saya masih punya episode 1 untuk ditonton lagi.
Saya selalu menganggap bahwa saya bukan orang yang pandai bercerita. Tapi setidaknya saya mencoba.
Hidup itu Menyebalkan
"it should've been called, 'it's a sucky life and just when you think it can't suck any more it does.'"- phoebe buffay
Hidup memang menyebalkan dan akan selalu begitu. Kalau kita lagi bahagia, mungkin sebenarnya kita hanya menunggu bencana. Selalu saja ada hal yang membuat kita mengumpat. Entah dari teman, pacar (kalau punya), keluarga, hingga pemerintah. Untungnya, setiap kali saya merasa hidup sedang menyebalkan selalu ada Friends season 1 di mana Ross baru bercerai, Rachel meninggalkan pernikahannya sendiri, Phoebe dengan masa lalu yang kelam, Monica yang susah menemukan pacar, hubungan buruk antara Chandler dengan orang tuanya, dan Joey yang belum mendapatkan pekerjaan.
Semenyebalkan apapun itu, tidak sekalipun mereka menyerah. Seharusnya memang begitu, bukan?
Cinta itu Kompromi
Kalau kalian menonton Friends, ada adegan di mana Richard dan Monica berpisah karena Richard ridak mau memiliki anak lagi. Kalau saja Richard mau berkompromi dengan dirinya sendiri, perpisahan itu tidak akan terjadi. Di lain sisi, ketika Chandler mengesampingkan segala ketakutannya tentang komitmen hingga melamar Monica dan akhirnya menjadi salah satu hubungan yang paling disukai oleh penonton sepanjang season. Begitu juga Mike yang akhirnya menikahi Phoebe setelah melawan ketakutannya dalam menikah karena sebelumnya pernah bercerai. Sedangkan Ross dan Rachel sepanjang season adalah wujud cinta yang tidak mengenal kompromi.
Ya! Hidup tidak menunggumu yang keras kepala itu. .
Selalu Mencoba Untuk Pekerjaan yang Diimpikan
x
Di awal season, kita melihat Joey yang kesusahan untuk menembus layar televisi, Chandler yang bekerja di tempat yang tidak ia sukai, dan Rachel yang harus bekerja sebagai pelayan di Central Perk. Hingga pada akhirnya mereka tetap mencoba untuk menemukan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang ia inginkan. Chandler sebagai copywriter, Joey sebagai aktor, Rachel di bidang fashion, Monica yang menjadi kepala koki, Phoebe sebagai pijat terapis, dan Ross sebagai paleontologis. Mereka tidak menyerah untuk menjalani apa yang mereka inginkan. Kalaupun belum punya pekerjaan yang cocok, jalani saja apa yang ada seperti Chandler. Tidak ada kata tua untuk menggapai mimpi!
Ketika Hidup Sedang Susah, Bercandalah.
Series Friends berisi banyak komedi yang membuat gelak tawa, namanya juga sitkom. Tidak jarang juga membuat saya menangis, seperti adegan putusnya Ross dan Rachel, Chandler melamar Monica, Phoebe yang akhirnya menikah dan menemukan "keluarganya", Monica dan Chandler saat mereka mengetahui bahwa mereka tidak akan bisa punya anak, hingga Joey dan Chandler yang tidak satu atap lagi.
Selalu ada tempat untuk bercanda meski mereka sedang tidak baik-baik saja. Saya menganggap bercanda adalah mekanisme pertahanan diri. Setidaknya dengan bercanda, separuh masalah tidak begitu terasa. Selalu ada kondisi di mana itu tidak terasa nyaman dan canggung, bercanda membuat suasana agak mencair. Sering kali saya bercanda untuk mencairkan suasana. Pernah sekali saya melihat pacar saya sedang menangis karena melihat foto-foto ayahnya yang kini meninggal, ketika dia sesenggukan saya hanya bilang "Ini kamu ketawa, ya?" dan entah tapi pada akhirnya kita tertawa bersama.
Jadilah Teman yang Baik
Seperti judulnya, series ini bercerita tentang pertemanan. Ada banyak adegan yang memperlihatkan betapa indahnya pertemanan. Monica yang menerima Rachel untuk tinggal di apartemennya, Candler yang membiayai Joey untuk kelas akting, Ross yang membelikan Phoebe sepeda, dan masih banyak lagi. Ada titik di mana saya bertanya kepada diri sendiri "Gimana ya rasanya punya teman yang selalu ada dan dukung apapun yang terjadi?" Sudah tidak diragukan lagi, bahwa saya adalah orang yang menjengkelkan (baca: laknat). Saya juga menyadari kalau teman saya sedikit. Dan sebagai orang yang hampir 8 tahun merantau, punya seorang teman di perantauan itu seperti memiliki keluarga sendiri.
Untuk menutup tulisan yang biasa ini, saya mengutip dari karakter favorit saya, Chandler Bing. "We are not sad, we're just not 21 anymore, you know".
Terima kasih telah membaca. Tabik.
Komentar
Posting Komentar