KIAT MENGHADAPI UMUR 27

Hallo, Blog. 

Tidak terasa sudah hampir setahun saya menjadi buruh. 

Tanpa saya sadari sudah hampir 6 bulan saya berumur 27 tahun. Ada apa dengan 27? Umur 27 adalah umur yang serba aneh. Terlalu tua untuk melakukan hal-hal yang dilakukan anak muda. Terlalu muda untuk melakukan hal-hal yang dilakukan orang tua. Saya masih belum siap untuk merawat burung pagi-pagi, tapi juga sudah tidak mampu untuk ngopi hingga pagi. 

Kata sahabat saya, umur 27 adalah klimaks dari umur 20an yang mana banyak keputusan besar yang harus diambil yang menentukan akan jadi seperti apa hidup yang kita jalani. Finansial, kehidupan percintaan, karir, dan banyak lagi keputusan yang harus kita ambil. Selama 27 tahun hidup, banyak kemunduran yang harus saya ambil. Dari sana saya menata diri untuk melangkah lagi. Kalau pembaca sekalian belum beranjak 27 mungkin ini bisa jadi kiat-kiat untuk survive di usia keramat ini. 

  • Fokus ke self-improvement

Banyak orang yang mengatakan "try something, make mistakes" cobalah sesuatu, buatlah kesalahan. Dulu ketika masih SMA, saya kira itu hanya omong kosong motivator. Akhirnya di tampar oleh anggapan saya sendiri ketika gap year di tahun 2015-2016. Hal yang menyadarkan saya adalah ketika setelah lulus saya tidak tahu mau ke mana. Hal yang saya sesali adalah tidak mencoba banyak hal. 

Semenjak saat itu, saya mulai belajar banyak hal baru dan belajar ulang hal-hal yang saya kira sudah tahu. Terlebih ketika masih kuliah saya masih punya beberapa tempat dan teman untuk terus belajar. Menyenangkan. Hampir semua skill yang saya pelajari dapat saya gunakan. Teater saya gunakan untuk bermuka baik di depan atasan. Menulis dan bermusik adalah cara saya untuk tetap kreatif. Bisa dibilang, dengan mengasah skill yang kita miliki sama dengan memperbanyak persediaan makanan di masa sulit. 

  • Dokumentasikan dan Simpan

Beberapa hari lalu, saya melihat foto-foto lama saya semasa kuliah di file iPhone 5s lama saya. Dan apa yang saya rasakan ketika melihat foto-foto itu? Tetiba saja mengingat hal-hal yang pernah saya alami di masa-masa itu. Good and bad. Terutama untuk hal-hal buruk, yang saya kira saya tidak akan bisa melewatinya, ternyata "gini doang?". Sedangkan untuk hal-hal baik adalah pengingat kalau saya sedang di masa-masa yang sulit. Ternyata hal-hal itu berarti untuk saya di masa sekarang. 

Dokumentasi pribadi itu juga adalah bentuk perjalanan yang sudah kita lalui hingga hari ini. Susah dan terjalnya perjalanan itu, pada akhirnya tetap indah, kan? 

  • I dont know how, but i will.

Saya memegang teguh tagline Nike "Just Do It". Banyak project yang saya lakukan yang sebenarnya saya tidak jago-jago amat. Sering juga jadi momen pertama kali. Jadi sutradara pentas tunggal, jadi aktor di film temen, nulis naskah untuk dipentaskan, bikin perpustakaan umum bareng temen-temen komunitas, bahkan main sandur yang notabenenya seni tradisional. Hal-hal itu adalah sesuatu yang saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi tetap saya jalani. 

Toh, berhasil atau tidaknya project yang saya lakukan, setidaknya saya tidak akan mati dalam keadaan  menyesal karena tidak pernah memulai. 

  • Dont compare

Sebagai orang yang tumbuh dengan mendengar orang tua membandingkan saya dengan anak-anak lain membuat saya menganggap hidup adalah perlombaan. Akhirnya hidup penuh dengan kecemburuan terhadap hidup orang lain. Kepala penuh dengan omongan seperti "Dia udah lulus kuliah", "Dia udah mapan hidupnya" dan banyak lagi. Saya jadi tidak bisa menikmati hidup dan proses yang saya jalani. Sekarang saya lebih fokus ke diri sendiri dan tidak begitu mempedulikan pencapain orang lain. Meski sampai hari ini terkadang masih membandingkan diri dengan orang lain, saya gunakan untuk penyemangat. 

Karena setiap orang punya tujuannya masing-masing. Setiap tujuan punya jalan-jalan yang harus dipilih. Setiap jalan punya rintangan dan waktu yang harus ditempuh. Itulah kenapa kesuksesan orang berbeda-beda. Ada yang baru sukses di usia tua, ada yang sukses di usia muda. Ada yang hanya ingin punya hidup dan keluarga sederhana, ada yang ingin menguasai negara. Tidak usah terlalu terburu-buru. Semua hal baik akan datang tepat pada waktunya.

Kita pasti pernah ada di titik terendah dalam hidup. Jelas pembaca yang tahu seperti apa titik itu dan tidak bisa kita bandingkan dengan milik orang lain. Seringkali kita ingin segera lari dari semua permasalahan itu. padahal yang kita butuhkan adalah rehat sejenak sambil menikmati momen yang sedang kita alami. Saya kira semua orang punya cara yang berbeda untuk menenangkan pikiran yang sedang kalut. Seringkali saya motoran sendiri tengah malam dan berhenti untuk merokok di pinggir jalan sambil mengingat kalau tidak semua masalah yang kita hadapi bukan hanya kita yang menyelesaikan. 

Pada akhirnya, cara terbaik untuk merawat masa depan adalah dengan menjalani masa kini dengan sebaik-baiknya, sesulit apapun itu. Saran saya, jangan lupa menabung karena pemerintah sedang gencar bikin program untuk mencuri uang rakyatnya. 

Tabik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cuti Patah Hati

The One With Not to Fail In Love