Cuti Patah Hati
Hallo, Blog
Kemarin saya mendapati kabar bahwa salah satu teman saya mengalami patah hati setelah menjalin hubungan selama kurang lebih 2 tahun. Turut prihatin. Tapi, yang menjadi ironi adalah ia harus tetap masuk kerja dengan hati yang hancur berkeping-keping. Seakan-akan dunia kerja tidak memiliki waktu untuk kaum pekerja mendekam di dalam kamar dan merayakan kesedihan. Bahkan tidak satu hari!
Padahal kalau kita menengok lebih jauh, bukankah semua akan lebih baik jika seimbang. Misal, ada hari ibu, ada juga hari ayah. Nah, kalau ada cuti untuk pernikahan di mana pekerja merayakan kebahagiaan, seharusnya ada cuti patah hati untuk merayakan kesedihan.
Saya rasa itu adalah hal yang manusiawi, juga layak didapatkan oleh pekerja yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk perusahaan.. Selain itu, saya rasa tidak ada pekerjaan yang selesai ketika dikerjakan dengan kondisi patah hati. Setidaknya saya demikian. Mungkin ini nantinya bisa dimasukkan dalam hak-hak pekerja terbaru.
Agar lebih jelas dan sistematis, akan saya kaji dalam beberapa poin di bawah sebagai bahan pertimbangan pemerintah untuk menambah hari cuti untuk kelas pekerja..
Mengganggu Workflow
Membuat Suasana Kerja Tidak Menyenangkan
Bayangkan saja memiliki teman kerja yang berada di kondisi patah hati, suasana di tempat kerja pasti tidak fun. Mau bercanda, dia tidak tertawa. Mau diskusi, dia tidak fokus. Belum lagi pekerjaan yang terhambat karena tugas dia tidak kunjung selesai. Pas jam istirahat juga lebih memilih untuk menyendiri sambil mendengarkan playlist sedih. Hadehhhhh.
Pekerjaan yang Terbengkalai
Sering kali ketika mengerjakan sesuatu dalam kondisi patah hati tiba-tiba teringat motoran sepanjang jalan sambil berpelukan dan spion sebelah kiri diarahkan ke wajah kekasih agar bisa saling berpandangan. Menyakitkan memang ketika seseorang yang biasa kita ceritakan tentang kenangan menjadi kenangan. Akhirnya, pekerjaan tertunda karena kita memilih pergi ke toilet untuk menangisi perpisahan. Pedih.
Tabik.
Komentar
Posting Komentar