The One That Last Forever

 Sudah lama rasanya saya tidak menulis dan menyapa pembaca sekalian. 

Hallo, Blog. 

Sejauh ini hanya ada satu hal yang membuat pacar saya cemburu. Dia adalah prioritas utama saya. Dia yang mengajari saya banyak hal, terutama perihal cinta. Jika pembaca kenal dengan saya, dia adalah Arsenal. Klub yang memiliki filosofi Victoria Concordia Crescit, yang diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi Tumbuh dalam Keharmonisan. Sebagai fan Arsenal yang khaffah, patah harapan adalah satu hal yang sering saya alami. 


Melihat Arsenal yang sekarang, slogan itu terasa nyata dan bukan hanya slogan kosong yang diusung caleg dan capres. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka berselebrasi atas sebuah gol, perayaan kemenangan di tiap pertandingan, hingga kebersamaan ketika rekan satu timnya jatuh kesakitan. 

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Arsenal mengajari saya perihal cinta, bukan sebuah perumpamaan. Saya sudah sering menonton pertandingan mereka sejak SD. Namun, saya mengatakan bahwa saya adalah fan Arsenal sejak 2011, masih kelas 3 SMP kalau tak salah hitung. Usia di mana saya rajin main PS. Saya masih mengingat dengan jelas tragedi 8-2 lawan MU. Saat van Persie menendang penalti, listrik rumah padam sejenak dan ketika sudah nyala tidak ada perubahan skor. Meski sudah kalah telak, saya tetap menonton hingga akhir. Sejak saat itu saya tahu bahwa saya adalah fan Arsenal. 

Berbicara tentang tragedi, sudah banyak tragedi yang telah saya lalui; gagal juara Premier League, kepergian pemain idola seperti Fabregas hingga Ozil, pensiunnya Arsene Wenger, belum lagi kekalahan tragis dan lucu. Namun, semua itu tidak pernah membuat saya tidak ingin menonton Arsenal apalagi mendukung tim lain. Ya, saya adalah cancer yang setia. 


Mungkin, cinta tumbuh seiring sejalannya waktu. Tidak terasa, intensitas menonton itu menciptakan kedekatan dan kebersamaan yang membuat cinta itu tumbuh dan berkembang. Cinta akan lebih terasa menghangatkan pada saat dibutuhkan, kan? Dan kini, setelah arsenal secara matematis tidak bisa jadi juara EPL, adalah waktu yang tepat untuk memberikan cinta kepada semua yang telah berjuang bersama arteta musim ini. 

 

Kini arteta kembali ke Arsenal sebagai manajer. Dulu ia datang dua minggu setelah kekalahan 8-2. Kini, ia datang setelah Arsenal menghadapi kehancuran dibawah Unai Emery. Sang Juru Selamat. Banyak hashtag yang menentang arteta di awal dia melatih, tapi semua tidak ada yang instan bukan? Membeli pemain mahal belum tentu membawa club juara, tidak bermaksud menyindir Chelsea ya. Meskipun musim ini Arsenal belum juara EPL, Arteta sudah menjadikan Arsenal sebagai klub yang ditakuti lagi secara permainan dan serangan. Hasilnya? Dia sudah bisa membawa arsenal ke UCL lagi. Hallo Bayern Munchen!

Pada akhirnya kita tidak bisa memilih siapa yang kita cintai. Jika sudah menemukan siapa yang kamu cintai, lakukan yang terbaik untuk membuatnya bahagia. Melihat ke belakang, saya tidak pernah melakukan yang terbaik dan membuat seseorang yang saya cintai bahagia, itu membunuh saya perlahan. 

Tabik!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIAT MENGHADAPI UMUR 27

Cuti Patah Hati

The One With Not to Fail In Love