Menolak Definisi Kebahagiaan Orang Lain.

Melihat linimasa twitter yang belakangan berisi penjemputan Imam Besar, katanya, sangat membuat saya heran takkaruan. Bagaimana tidak? Aksi Menolak Omnibus Law yang terjadi bulan lalu dibungkam aparat dengan bengisnya. Sekarang? Dikawal! ya, dikawal! Saya tidak menyalahkan penjemputannya, tapi sama-sama ngumpulin massa, kenapa perlakuannya berbeda?

Sudah, bukan kompetensi saya membahas hal seperti itu.

Tetapi ada sedikit pemberitahuan di sana, twitter, yang cukup mengagetkan yaitu balasan dari karib saya untuk tulisan saya yang biasa saja. Memang, kalau belum mengalahkan dengan telak, ia tidak akan tenang, sungguh sifat yang wajib dimiliki fans liverpul. 

Ia membalas tulisan saya dengan membahas tubuh, lebih tepatnya keambiguan tubuh, saya juga tidak paham. Karena memang kita tidak memahami tubuh kita. Bahkan, kita juga tidak berkuasa atas diri kita sendiri, terlebih kepada orang terdekat kita.

Sedari kecil, kita memang tidak memiliki hak penuh atas diri kita. Saat kita tidak mau makan kita dipaksa makan hingga akhirnya gumoh. Atau ketika kita tidak mau tidur dan ingin begadang saat malam menjelang orang tua akan menidurkan kita bagaimanapun carannya.

Saat kita sedang menikmati pertumbuhan tubuh, semakin besarnya perut dan pipi, tetapi datang omongan dari orang tua "Jangan makan banyak-banyak, nanti gendut!" Padahal kita menginginkan  bentuk tubuh menggemaskan. Bukankah kita memang tidak pernah memiliki hak tubuh kita? 

Kemudian di masa-masa sekolah dengan banyak mimpi yang bertaburan saat menjelang tidur, kita diantarkan menuju mimpi orang tua yang dulu tidak sempat ia capai. Yang awalnya menginginkan dirinya menjadi Dalang dalam sebuah pementasan Rama dan Shinta, terpaksa menanggalkan satu impiannya karena dipaksa untuk mengikuti les dengan rajin agar nanti jadi PNS. Padahal, percuma pintar kalau tidak ada orang dalam. 

Akhirnya, kita menjadi orang yang gagal memahami tubuh kita karena sedari kecil tidak dibiasakan untuk memilih. Kita tidak bisa menjelaskan kemauan kita pada orang lain karena sejak kecil dibiasakan mengikuti kemauan orang lain. 

Ketidakmampuan untuk memahami tubuh sendiri seringkali kita lampiaskan pada orang lain. Jadi jika ada orang yang mengomentari kegendutan seseorang, mungkin sejak kecil ia tidak boleh banyak makan. Jika banyak orang yang mengomentari pilihan hidup orang lain, mungkin ia tidak pernah tahu rasanya memilih jalan hidupnya sendirian. 

Hingga akhirnya saya menulis tulisan ini dan saya sadar sekarang adalah waktunya untuk mengikuti kemauan sendiri, mencari, dan menghidupi jalan yang akan saya pilih. 

Namun, saya lupa kalau tidak punya orang dalam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIAT MENGHADAPI UMUR 27

Cuti Patah Hati

The One With Not to Fail In Love