SAYA DAN TULISAN YANG BIASA SAJA
Saya adalah orang yang tidak pemarah, mau dikalahkan, sangat tidak kompetitif meskipun sangat banyak kompetisi, tapi berbeda dengan pencapain. Namun, tetiba saja semua sifat pemalas saya berubah sejak diusik di twitter oleh akun SJW yang kini gondrong lagi, @pamujism. Kami ditempa dalam madzab yang berbeda, saya menganut paham pujonism, sedang ia menganut rijalism. Perbedaan madzab inilah yang membuat kami berdua nyantol dalam banyak hal, contohnya bercandaan plesetan yang bisa berlangsung selama belasan menit.
Dia adalah orang yang sangat kompetitif, sangat mencerminkan sifat-sifat fans liverpool. Sebagai pribadi yang malas dengan kompetisi, saya hanya melakukan hal-hal yang biasa saja agar tetap bisa menyembunyikan sifat pemalas ini. Maka dari itu, tulisan-tulisan saya di blog ini hanya berisi tulisan-tulisan yang berasal dari imajinasi dan opini saya saja. Itulah alasan saya tidak mengutip banyak tokoh-tokoh besar di luar sana yang hanya saya kenal melalui tulisannya. Tidak ada Descartez, Chomsky, Socrates, atau Derrida. Selain saya tidak memahami pemikiran mereka, saya juga tidak mau tulisan biasa saja saya terkesan berat hanya karena nama besar di dalamnya. Mereka juga tidak pernah nongkrong dengan saya.
Melihat tulisan kawan saya, saya hanya ingin berkata bahwa tulisan iseng yang belakangan saya tulis di blog ini adalah bentuk pemertahanan ingatan saya yang sudah mulai pikun ini dan sesekali melawan perasaan malu karena ada nama Seno Gumira Ajidharma di beranda blog ini.
Saya juga bukan orang yang romantis yang bisa membuat puisi cinta, cerita yang mengada-ada, atau buku tebal berisi gombal yang sejak dulu jadi konsumsi masyarakat kita yang bebal dan tidak mau berpikir kritis. Masyarakat seperti inilah yang selalu membuat saya takut.
Bisa jadi buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas milik Eka Kurniawan di tahun yang akan datang tidak laku, karena hanya berisi permasalahan penis impoten laki-laki. Padahal kalau kita menelusuri secara kritis, penis impoten adalah penis yang tidak ngaceng, tidak perkasa dan tidak berdaya. Kemudian, penis impoten ini membuat hubungan suami-istri tidak lagi harmonis karena tidak lagi bisa "bercinta" dan bisa saja berujung perceraian. Perceraian-perceraian ini nantinya akan menjadi sebab anak merasa kesepian karena kurangnya kasih sayang. Bayangkan saja, penis impoten adalah sebab anak merasa kesepian.
Atau, bisa saja buku Pulang karya Leila S. Chudori akan memacu mahasiswa untuk menjadi aktivis. Bukan karena memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas dan dirampas, melainkan ingin mengunggah foto orasi depan gedung DPR agar menarik hati lawan jenis lalu bisa bersenggama semaunya.
Dan bisa saja buku kanon seperti Bumi Manusia hanya dilihat kisah cinta Minke dan Annelies saja tanpa menerka tokoh-tokoh lain dan perannya dalam cerita. Lalu, apakah di tahun yang akan datang buku itu akan tetap menggerakkan? Tidak perlu kalian pikir, itu hanya imajinasi saya saja.
Itulah kenapa saya hanya menulis yang saya suka saja, musik, teater, atau cara pandang saya pada hidup. Bukan berkeinginan berbeda, saya hanya ingin menjadi tidak sama. loh sama, ya? maaf-maaf, saya hanya bercanda.
Jika menulis membuat saya tetap abadi, maka saya akan tetap menulis untuk menjaga saya dari mimpi-mimpi saya tentang mati. Tabik.
Komentar
Posting Komentar