Cerita Hidup, Perubahan, dan Seni Peran.
Hallo blog.
Saya akan bercerita tentang project yang saya kerjakan di awal tahun ini. Di sini saya berperan sebagai copywriter. Tapi, sebagai aktor yang baik, katanya, saya perlu mengobservasi peran yang akan saya maikan. Jadi, saya banyak belajar dari orang-orang seperti Jonathan Morrow dan Joe Coleman dari websitenya.
Namun...
Sebelum bercerita tentang project terbaru saya, mungkin saya akan memberi latar belakang kenapa saya belajar akting dan segala tetek-bengek-nya. Saya akan mencoba membuat tulisan ini menarik seperti saat kalian melihat es teh di bulan puasa.
Cerita Hidup
Saya tumbuh sebagai lelaki yang pemalu, kurang pergaulan, dan tidak punya banyak teman. Mungkin saja saya memang malas. Bicara soal kemalasan, Bapak sering bercerita bahwa semasa kecil saya lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah daripada di luar rumah. Bahkan saya baru bisa berjalan di umur 18 bulan. Saya hanya ke luar rumah untuk mengejar penjual pentol atau eskrim yang lewat di depan rumah.
Tidak punya banyak teman, membuat saya tidak bisa mengasah kemampuan bersosialisasi. Lebih sering diam ketika di tongkrongan. Hingga lebih menghabiskan banyak waktu di kamar daripada bermain sepakbola di lapangan. Bahkan, saya lebih jago dalam urusan permasakan daripada hal-hal yang berbau "maskulin".
Teman SMP saya yang hingga saat ini masih berkomunikasi hanya ada 1 orang. Ya, satu. Sering gonta-ganti nomor hp dan tidak adanya sosial media mungkin bisa saya jadikan alasan. Tapi, kenyatannya adalah saya tidak begitu punya banyak teman. Seringkali bertemu dengan teman SMP, tapi saya lupa namanya. Dan, seringkali saya juga tidak tahu harus ngobrol hal apa, karena basa-basi bukan hal yang saya gemari.
Perubahan
Namun, itu berubah ketika saya mengenal teater, lebih tepatnya akting. Akting membuat saya menjadi orang yang lebih fleksibel dengan berbagai karakter seseorang, lebih ahli dalam berpura-pura, dan bisa menempatkan diri. Jadi, jika saya terdengar friendly ada kemungkinan saya sedang berpura-pura.
Guru teater saya sekali waktu pernah bercerita bahwa tidak semua orang harus punya banyak teman, tapi kamu harus punya teman. Ia meminta saya untuk menerapkan teater dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, teater adalah cara untuk hidup dan panggungnya adalah dunia nyata.
Sejak saat itu, saya mencoba mengamati dan meniru bagaimana cara bicara seseorang, bagaimana gestur ketika berbicara, dan bagaimana ekspresi ketika berbicara kepada banyak tipe persona. Begitulah saya mempelajari seni peran.
Tentang Seni Peran
Yap, akting mengubah saya, baik hidup maupun cara hidup. Sebagai rasa terima kasih pada dunia teater, khususnya akting, saya berjanji untuk selalu menyebarkan ilmu yang saya miliki kepada semua orang. Salah satu alasan kenapa saya masih berkecimpung di bidang ini adalah karena saya nyaman berada dalam sebuah proses kreatif. Itu selalu menjadi kesenangan saya.
Begitu pula ketika teman saya meminta saya menjadi aktor di proyek film yang sedang ia garap. Bermain di depan kamera adalah sesuatu yang baru dan belum saya lakukan. Namun, dengan tema film yang menarik dan karakter tokoh yang bisa saya garap, tidak terlintas sedikitpun saya berkata tidak. Berangkatlah saya ke Malang untuk syuting film selama beberapa hari.
Seharusnya ini film festival karena diniatkan untuk diikutkan ke festival, tapi karena terlambat dalam pengumpulan, akhirnya film ini buka film festival. Kok mbulet, ya? Sebagai gantinya, kami memutuskan untuk mengunggah di akun youtube kami dan akan ditayangkan pada tanggal 8 Maret 2022 sebagai peringatan Hari Perempuan Internasional. Apakah kamu sudah penasaran? Ini adalah posternya. Kalian bisa menonton di sini.
Tabik.
Komentar
Posting Komentar