Analisa Gembel: Tentang Kesedihan
Hallo, Blog.
Mari kita
berbicara tentang perasaan dasar yang sering muncul dalam diri kita. Perasaan
yang seringkali tidak dipedulikan dan semakin tidak dipedulikan, semakin ia
menjadi-jadi. Sebuah perasaan yang sering kita namai dengan kesedihan.
Saya percaya
bahwa pikiran dasar manusia mengamplifikasi setiap kesedihan yang muncul. Tidak
sedikit dari kita yang tenggelam dalam perasaan itu. Ia seakan jurang tak
berujung. Ia seakan badai yang pasti berlalu dan pasti datang kembali. Sejauh
apapun kita mempersiapkan hal terburuk tentang kesedihan, kita tetap saja kalah
karena ia menjadikan semua yang terburuk menjadi lebih buruk.
Seringkali kita tidak mempedulikan dan menolak hadirnya kesedihan. Betapa kita lebih mengabadikan momen bahagia melalui kamera ponsel. Kita lebih memilih untuk mengabadikan momen kebersamaan dengan kawan daripada kesepian yang kita mungkin lebih sering dialami. Kita lebih memilih mengabadikan momen bersama keluarga yang hangat saat hari raya daripada pertengkaran-pertengkaran kecil yang acapkali terjadi di dalam rumah. Kemudian, dengan bangganya kita mengunggah kebahagiaan di sosial media yang disertai caption puitis yang kita kutip dari penulis favorit.
Namun, kesedihan
tidak perlu untuk diabadikan. Ia abadi dengan sendirinya. Mungkin kita masih
mengingat pertama kalinya orang tua memarahi kita karena hal sepele yang
membuat kita mengunci diri di kamar. Mungkin kita masih mengingat betapa
sakitnya ditinggal kekasih yang sudah kita anggap sebagai the one and only.
Mungkin kita masih mengingat betapa sedihnya mendapatkan nilai 5 pada mata
pelajaran yang sudah dipelajari semalam suntuk. Kita tidak perlu mengabadikan
kesedihan sebab ia abadi.
Bahkan,
kesedihan lebih sering datang lewat hal-hal dan pada waktu yang tidak kita
duga. Kesedihan itu seperti mesin waktu yang mengantarkan kita pada seluruh
kenangan yang kita miliki. Ia bisa datang di tengah perjalanan ketika kamu
melihat tempat yang dulu sering kamu kunjungi bersama seseorang yang sepesial
di masa lalu. Dengan mudahnya kamu bisa mengingat senyum manis, mata cokelat,
rambur hitam sebahu, hingga segala hal yang pernah kamu obrolkan bersamanya. Namun,
ketika kesadaran bahwa ia sudah tidak lagi ada di sampingmu, kesedihan merasuk
dan merusak kenangan indah itu. Kesedihan memberikan kita sekilas bayangan
tentang kebahagiaan dan mendorong kita pada jurang takberujung.
Meski tidak begitu kita pedulikan, tanpa kita
sadari, kesedihan adalah hal privat yang selalu kita jaga. Kita cenderung
menceritakan kesedihan kepada orang-orang terdekat, sedangkan kebahagiaan bisa
diceritakan kepada siapapun. Kita tidak menceritakan perceraian ayah dan ibu
kepada semua orang. Kita tidak menceritakan perihal keinginan untuk mengakhiri
hidup kepada semua orang. Kita tidak menceritakan perihal penyakit yang kita
idap bertahun-tahun kepada semua orang. Secara tidak sadar, kita memilih orang
yang tepat untuk setiap cerita sedih. Kesedihan menjadi begitu spesial tanpa perlu dispesialkan, bukan?
Begitulah kesedihan
bagi saya. Ia abadi tanpa diabadikan.
Tabik.
Komentar
Posting Komentar