Menjadi Panitia, tapi Tidak Perlu Danus
Hallo, Blog.
Hari ini saya rasa terlalu makan banyak daging kambing. Pusing mulai tak karuan. mungkin karena saya makan semua dagingnya. Bukan saya rakus, tapi saya di malang sedang sendirian. Teman-teman saya sedang pulang. Jadi ya saya masak dan makan semuanya. Hehehe.
Ohya, kemarin saya jadi panitia dadakan di masjid dekat kontrakan. Bukannya kenapa, saya khawatir kalau disuruh danusan. Padahal, saya hanya berniat melihat keseruan bapak-bapak sedang menjegal sapi. Sedang santai menonton, seorang bapak meminta saya untuk megangin kakinya. Ya, apa boleh buat. Saya akhirnya mengeluarkan skill jagal yang sudah lama terpendam.
Dari semua panitian, hanya saya yang tidak membawa pisau. Bukan hanya karena tidak berniat membantu warga, tapi memang tidak ada pisau yang layak dipakai untuk menguliti. Setelah selesai dengan adegan memegangi sapi, saya beralih menjadi kurir. Tugas saya mengantarkan potongan tubuh hewan kurban ke bagian penyisitan dan penimbangan. Jangan salah, meski hanya memindahkan daging, saya punya beberapa kru, yang masih SD.
Setelah semuanya selesai, ternyata masih ada tanggungan yang harus saya selesaikan, mengantarkan isi perut sapi ke bagian yang lebih menyedihkan dari saya--membersihkan usus dan jeroan hewan qurban. Ternyata saya baru sadar beratnya bikin saya minta ampun. Apalagi baunya yang bikin saya ah sudahlah. Tapi apa daya. Di dunia patriarki ini, laki-laki dituntut untuk lebih kuat dan tidak mudah lelah. Mungkin itu penyebab laki-laki transgender sulit diterima di masyarakat.
Loh, kok saya jadi bahas yang kayak gini.
Setelah semuanya selesai, akhirnya datanglah saat yang ditunggu-tunggu. Makan bersama-sama, hal yang saya rindukan dari rumah. Itu juga pertama kalinya,saya makan daging sapi di Malang. Disertai guyonan bapak-bapak, makan siang itu terasa lebih sejuk dari biasanya.
Karena tidak ada pisau yang menunjang skill jagal, akhirnya saya pamitan untuk pulang ke warga. Ternyata capai juga mindahin daging kurban. Sore harinya ada ibu-ibu yang mengantarkan daging ke rumah saya. itu juga kali pertama saya mendapatkan daging tanpa perlu mengantri dan meminta pada teman-teman saya. Ternyata tidak percuma saya jadi pengantar jeroan sapi.
Karena saya sedang sendirian di rumah, akhirnya ya seperti yang sudah saya ceritakan di awal. Pusing terlalu banyak daging. Mungkin besok saya akan ke rumah sakit untuk cek kolesterol.
Tabik.
Komentar
Posting Komentar