back to the analog
Sepertinya teknologi yang berkembang dengan cepat membuat seakan-akan dunia bisa digenggam hanya dengan mengutak-atik smartphone. Kita bisa melihat kawan, pameran lukisan, konser, dan sebagainya hanya melalui layar monitor, entah smartphone atau laptop. Sungguh canggih.
Bahkan, sejak adanya layanan streaming yang memudahkan saya mengetahui banyak hal. Saya juga lebih mudah mengakses band/penyanyi terbaru yang ternyata sangat banyak dengan nama yang aneh-aneh.
Tapi anehnya, sejak ada Spotify dan Youtube saya tidak lagi menikmati album secara penuh. Tidak seperti dulu yang menyulitkan ketika ingin mengganti lagu. Saya juga tidak lagi terkejut dengan nada-nada unik di tengah lagu.
Dulu saya mendengar sound sebuah band/penyanyi sebagai sesuatu yang unik. Seperti ketika memutar kaset berulang-ulang hanya untuk mendengar Dewa19, Padi, dan band lain hingga pita kusut. Kaget dengan lagu enak yang tidak tahu judulnya ketika mendengarkan radio. Sepertinya perasaan itu tidak akan tumbuh lagi. Perasaan takjub dan kaget karena mendengar sebuah sound gitar seperti ketika mendengar Radiohead.
Sekarang dengan adanya musik yang bisa diakses melalui aplikasi membuat musik terasa membosankan. Mendengarkan Billie Eilish dan penyanyi terbaru hanya membuat telinga saya bosan mendengar musik yang "gitu-gitu aja". Akhirnya saya tetap kembali ke The Beatles, John Mayer, Red Hot Chilli Pepper, Radiohead, dan penyanyi lainnya yang masih menggunakan analog sebagai konstruksi musiknya.
Dan dengan mudahnya layanan streaming dan banyaknya band yang muncul, sepertinya kemungkinan band bisa jadi populer hanya 1:10. Dunia digital membuat proses eliminasi yang lebih ketat.
Itu baru di bidang musik saja. Belum layanan lainnya.
Bahkan kini ada layanan video conference yang memudahkan pertemuan rapat, kelas, hingga konser band. Sejak pandemi, tidak terhitung berapa banyak saya menggunakan Zoom/Google Meet untuk rapat. Hingga saya menyebut penggunanya sebagai Zoomboy dan Zoomgirl. Sosial media juga tidak hentinya menghadirkan fitur terbaru. Ya, meski saya sudah tidak memiliki akun sosial media, tapi banyak teman saya yang masih meggunakannya.
Saya khawatir, nantinya, ketika aktivitas fisik dialihkan ke aktivitas digital, saya tidak lagi memiliki kemampuan nongkrong seperti dulu. Tidak lagi bisa memulai pembicaraan, tidak bisa mengembangkan topik obrolan, mungkin ketahanan tulang belakang tidak lagi sekuat dulu. Mungkin, terlalu sering berkomunikasi melalaui sosmed sambil rebahan membuat saya lupa cara berkomunikasi dengan beratatap muka. .
Dunia dalam layar kotak mungkin menyenangkan, tapi tidak hadirnya perasaan takjub dan penasaran membuat saya memilih untuk kembali ke analog. Saya mencoba dalam banyak hal, dimulai dengan mengurangi penggunaan internet, lebih sering berbicara dengan bertatap muka, hingga menghapus seluruh sosmed kecuali Whatsapp.
Sepertinya sekian dulu saya mengkhawatirkan akibat dari digitalisasi dunia dalam layar kotak yang bisa digenggam kemana pun. Tabik.
Komentar
Posting Komentar