Belajar Teater #1: Sebuah Usaha Menyembunyikan Kesedihan

Pertama kalinya saya akan membahas teater dengan khusyuk. Lumayan nderedeg untuk membahas teater karena saya merasa tidak begitu paham dengan teori yang ribet. Jadi, saya akan membahas apa yang saya dapatkan dari belajar teater. Untuk teori-teori, nanti saja ya kalau mental saya sudah siap.

Mempelari teater sedari SMP hingga SMA tapi saya merasa "gitu-gitu aja" membuat saya merasa perlu untuk mempelajari teater lebih di masa saya kuliah. Sudah beberapa naskah yang saya mainkan. Kalau tidak salah, naskah pertama yang saya mainkan adalah RT 0 RW 0 karya Iwan Simatupang, Bui karya Akhudiat, dan Sayang Ada Orang Lain karya Utuy Tatang Sontani. Lalu naskah yang saya garap sebagai sutradara adalah Mengapa Kau Culik Anak Kami? karya Seno Gumira Ajidharma dan Prodo Imitatio karya Arthur S Nalan. Tidak, saya tidak berniat memamerkan naskah yang saya garap dan mainkan.

Foto: Suminta, karakter dalam naskah Sayang Ada Orang Lain.
 
Proses yang sangat berarti dalam penggarapan naskah, menurut saya, adalah bedah naskah. Saya mulai mengetahui sebab-akibat pembentukan sebuah karakter. Lalu mulai untuk pendalaman karakter yang menurut saya susah, tapi tetap bisa dilakukan, adalah hal yang menyenangkan. 

Menyelami sebuah karakter tokoh adalah saat di mana saya menghentikan sejenak semua perasaan-perasaan yang saya rasakan dan mulai menjadi tokoh yang saya mainkan. Tidak sempurna, tapi tidak apa-apa karena yang sempurna hanyalah Andra and The Backbone (bercandaan tahun 2010-an yang masih saya pakai, semoga lucu). Tapi, proses menyingkirkan ego dan perasaan dalam proses ini membuat saya banyak belajar tentang menyembunyikan kesedihan. 

Bagaimana, tidak? Ketika berlatih ataupun di panggung, saya dipaksa untuk tidak memperlihatkan perasaan dan ego di depan umum. Hal inilah yang saya pelajari dan saya praktikkan dalam kehidupan nyata. Pembelajaran ini membuat saya mempuyai skill baru yaitu  "menipu teman". Tenang, bukan uang, kok. Saya juga tahu kalau semua teman saya miskin. Hanya saja, bisa menyembunyikan kesedihan dan hal-hal privat lain agar tidak diketahui orang dengan pura-pura bersikap biasa saja, seakan tidak ada apa-apa. 

Terakhir kali saya mempraktikkan ilmu ini ketika saya magang menjadi guru di salah satu SMP di Malang. Saya tetap bisa santai dan tenang dalam menghadapi murid yang menyebalkan, padahal dalam hati bergejolak ingin membakar ruang kelas. 

Akhirnya saya percaya pada ucapan dosen saya, Pak Fatoni, bahwa teater adalah belajar untuk hidup. Ya, begitulah hidup, seakan tidak kenal waktu. Semua bisa datang kapan saja, kita hanya perlu siap. Kalaupun tidak siap, kita harus kuat melewatinya. Apakah pembaca harus mengikuti teater untuk mendapatkan ilmu seperti ini? Tidak, karena hidup adalah panggung yang jadi tempat kalian bermain peran. 

"Proses menyingkirkan ego dan perasaan dalam proses ini membuat saya banyak belajar tentang menyembunyikan kesedihan."



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIAT MENGHADAPI UMUR 27

Cuti Patah Hati

The One With Not to Fail In Love