hidup tidak lagi menyebalkan
Sebanyak apapun peristiwa yang kamu lalui, hidup hanya tentang jatuh dan bangkitnya dirimu. Lihatlah dirimu di usiamu kini, begitu banyak hal-hal yang kamu sudah lalui. Entah sedih atau bahagia, entah membuat tertawa atau mengantarkan kita di pojokan kamar dan menangis tersedu hingga terbesit pikiran untuk memotong nadi agar hidup segera berakhir atau menyileti tubuh sendiri agar tangis lenyap. Ya, kita tidak bisa menghindari kejadian-kejadian yang akan kita alami, bahkan memilih peristiwa yang akan kita alami. Itu adalah hal yang tidak mungkin. Namun, menghadapi dengan sekuat-kuatnya diri adalah satu-satunya pilihan yang harus dipilih.
Banyak hal yang sudah kita lalui. Hal-hal di rumah seperti mencuri uang ayah untuk sekadar membeli barang-barang kesayangan, beralasan kerja kelompok agar punya waktu lebih untuk berpacaran, membawa pacar ke rumah ketika ayah dan ibu sedang ke luar kota, membuat ayah dan ibu tersenyum ketika menjuarai lomba balap karung antar RT, berdebat tentang masa depan dengan ayah, dirindui ibu, kebohongan yang tak terungkap dan pertengkaran-pertengkaran takperlu di rumah yang membuatmu ingin pergi dan tak kembali ke rumah.
Hal-hal di luar rumah seperti pertemanan yang menyebalkan, pergaulan bebas yang menyenangkan, bolos sekolah buat nge-band, bermimpi menjadi pusat perhatian setiap orang yang lewat di samping kita, ketakutan membeli kondom di mini market, mabuk sampai pagi padahal harus ujian matematika dengan guru yang killer, membayangkan adegan percintaan dengan Sophia Latjuba, mencintai orang yang tidak bisa kita miliki, hingga ditinggal seseorang yang selalu menjadi orang pertama yang ingin kalian lihat pertama ketika bangun tidur nantinya.
Setiap orang punya berbagai versi kebahagiaan dan kesedihan di masa mudanya, tidak perlu membandingkan, sebab, sekali lagi, setiap orang punya kebahagiaan dan kesedihannya masing-masing. Ada yang bahagia dengan memakan nasi pecel bersama ayahnya sebelum berangkat ke sekolah. Ada yang bahagia ketika menonton TV bersama ayah dan ibu di rumah karena sangat jarang berkumpul bersama. Ada yang bersedih ketika pulang ke rumah membawa piala. Ada yang sedih hanya karena ditinggal ayah ke luar kota. Ada yang sedih karena tidak lagi diantar ayah ke sekolah. Ada yang bersedih ketika orang tua berpisah.
Jika saya, sebagai penulis, harus menilai seberapa besar kebahagiaan teman-teman saya, jelas saya tidak mampu. Jika saya mempunya kemampuan untuk menilai kebahagiaan, saya tidak mempunyai hak untuk melakukan itu. Namun, saya yakin bahwa semua orang-orang di sekitar saya adalah orang kuat yang mampu melewati segala badai yang menghempas mereka ke dasar samudera. Namun, sekali lagi, kepada kalian yang masih hidup dan membaca tulisan ini, coba tersenyum dan hiruplah nafas sedalam-dalamnya sambil berkata dalam hati “Terima kasih untuk diri saya sendiri yang kuat menghadapi dunia yang kejam ini. Saya hebat!”
Banyak hal yang sudah kita lalui. Hal-hal di rumah seperti mencuri uang ayah untuk sekadar membeli barang-barang kesayangan, beralasan kerja kelompok agar punya waktu lebih untuk berpacaran, membawa pacar ke rumah ketika ayah dan ibu sedang ke luar kota, membuat ayah dan ibu tersenyum ketika menjuarai lomba balap karung antar RT, berdebat tentang masa depan dengan ayah, dirindui ibu, kebohongan yang tak terungkap dan pertengkaran-pertengkaran takperlu di rumah yang membuatmu ingin pergi dan tak kembali ke rumah.
Hal-hal di luar rumah seperti pertemanan yang menyebalkan, pergaulan bebas yang menyenangkan, bolos sekolah buat nge-band, bermimpi menjadi pusat perhatian setiap orang yang lewat di samping kita, ketakutan membeli kondom di mini market, mabuk sampai pagi padahal harus ujian matematika dengan guru yang killer, membayangkan adegan percintaan dengan Sophia Latjuba, mencintai orang yang tidak bisa kita miliki, hingga ditinggal seseorang yang selalu menjadi orang pertama yang ingin kalian lihat pertama ketika bangun tidur nantinya.
Setiap orang punya berbagai versi kebahagiaan dan kesedihan di masa mudanya, tidak perlu membandingkan, sebab, sekali lagi, setiap orang punya kebahagiaan dan kesedihannya masing-masing. Ada yang bahagia dengan memakan nasi pecel bersama ayahnya sebelum berangkat ke sekolah. Ada yang bahagia ketika menonton TV bersama ayah dan ibu di rumah karena sangat jarang berkumpul bersama. Ada yang bersedih ketika pulang ke rumah membawa piala. Ada yang sedih hanya karena ditinggal ayah ke luar kota. Ada yang sedih karena tidak lagi diantar ayah ke sekolah. Ada yang bersedih ketika orang tua berpisah.
Jika saya, sebagai penulis, harus menilai seberapa besar kebahagiaan teman-teman saya, jelas saya tidak mampu. Jika saya mempunya kemampuan untuk menilai kebahagiaan, saya tidak mempunyai hak untuk melakukan itu. Namun, saya yakin bahwa semua orang-orang di sekitar saya adalah orang kuat yang mampu melewati segala badai yang menghempas mereka ke dasar samudera. Namun, sekali lagi, kepada kalian yang masih hidup dan membaca tulisan ini, coba tersenyum dan hiruplah nafas sedalam-dalamnya sambil berkata dalam hati “Terima kasih untuk diri saya sendiri yang kuat menghadapi dunia yang kejam ini. Saya hebat!”