CINTA DAN DARAH
CINTA DAN DARAH
Aku melihat banyak orang datang
mengunjungi rumahku. Pagi serasa lebih gelap. Senja serasa hal yang suram.
Gelap adalah malam yang tak pernah berakhir. Hujan adalah runtuhan meteor yang
langsung mengenai hatiku. Waktu serasa kematian yang siap menjemput siapapun.
Dan pada keramaian itu pula, aku terhempas pada ruangan tanpa sedikitpun cahaya
yang menerangi. Semua berakhir ketika aku melihat wajahmu disela-sela keramaian
orang.
Hari ini begitu ramai dengan
orang-orang yang berpura-pura. Ada yang pura-pura mengenal. Ada yang pura-pura
tak memiliki kebencian. Ada yang pura-pura melupakan amarahnya. Ada pula yang
pura-pura setia. Selain orang-orang yang pura-pura, aku melihat juga beberapa
orang yang mendadak tobat. Mungkin, kematian adalah saat yang tepat bagi
orang-orang untuk mendapatkan perhatian dari Tuhan.
Keramaian ini membuatku begitu
menyadari bahwa ada yang kubenci dari perkembangan teknologi. Bagaimana tidak?
Kabar yang tak kusebar saja bisa mendatangkan orang seramai ini. Kerabat,
teman, kolega, dan orang-orang tak kukenal datang tanpa ada undangan.
Kedatangan mereka membuat kematian seperti ini adalah perayaan. Mereka terlihat
sangat bahagia. Berbeda dengan apa yang mereka unggah melalui gawai mereka.
Manusia memang munafik!
Dalam keramaian ini pula aku dihantam
banyak suara-suara yang membuatku bising.
semua kebisingan itu berasal dari lantunan
dzikir para tamu. Ucapan belasungkawa yang tak berhenti mereka ucapkan. Suara
tangis yang sedu-sedan. Pertanyaan-pertanyaan klise. Semua terdengar bagai
suara ledakan bom teroris yang selalu saya benci. Menggelegar dan membuat
dataran bergetar. Lalu di langitawan berubah menjadi asap hitam. Saya selalu
benci dengan hal sejenis itu. Keindahan yang semu dan maya, begitu memaksa
untuk diakui. Dan saya membenci semua kepalsuan yang saya dengar saat itu. Selain
satu suara, dari mulutmu yang tak sekali pun berkata-kata. Kau diam dengan
begitu jujur.
Banyak orang yang datang dengan
tangisan yang lebih kencang, bahkan lebih kencang daripada tangisanku. Tangisan
itu berasal dari teman-temanku yang seperti lebih mengenal istriku daripada aku
sendiri. Tetangga yang sehari-hari mencibir dan mengangap kami tidak ada.
Beberapa ustadz yang sudah mulai menjual doa juga ikut menangis bersama
tetangga dan teman-temanku. Beberapa orang yang tak kukenal dan tak menangis
lebih memilih untuk mencoba membuat ekspresi sedih seperti halnya artis
sinetron. Dari banyak orang yang membuatku pusing, hanya 4 orang yang tidak
menangis; 3 orang penggali kubur—yang sudah terbiasa dengan kematian—dan kau
yang lebih memilih diam daripada harus berpura-pura.
Dalam kesedihan ini, aku mencoba untuk
tetap meperhatikanmu. Mencarimu diantara orang-orang yang berlalu-lalang
seperti menunjukkan bahwa mereka sedang berbelasungkawa. Kau memakai pakaian
hitam, celama krem, jilbab yang tak sempurna,
dan kacamata hitam seperti seorang mafia. Ah, dengan sangat mudah aku bisa
mengenalimu karena memuang tak sedikitpun kesedihan yang diumbar oleh wajahmu.
Wajah yang seakan memberitahu bagaimana cara untuk menghadapi kehilangan.
Banyak orang yang memeluk dan ikut
menangis bersamaku—para tetangga, teman-temanku, saudara-saudaraku, dan
beberapa ustadz—seakan member pernyataan bahwa tidak hanya aku yang kehilangan.
Namun, berbeda dengan mereka, kau hanya menjabat tanganku, menganggukkan
kepala, dan menepuk bahuku. Sesuatu yang aku sadari bahwa ada cara yang
sederhana dalam menyampaikan simpati selain tangisan.
Keramaian yang terjadi telah berulang
selama satu minggu. Selalu ada gelap di setiap pagi. Pun senja yang masih belum
menujukkan sinarnya yang keunguan. Lalu malam yang terasa lebih lama karena aku
tak bisa membedakan antara gelap pada pagi hari dan malam hari. Selama satu minggu
itu pula aku menjawab pertanyaan klise dari beberapa orang seperti:
“Dia sakit apa?”
“Jadi, selama ini dia menahan rasa
sakitnya?”
“kenapa kau masih saja mengurusi rapatmu?
kenapa kau tidak menjaga istrimu yang sedang sakit keras?”
“kapan mau kawin lagi?” ini adalah satu
pertanyaan brengsek yang diucapkan oleh penghulu. Apa tidak bisa dia menunggu
selesainya masa berkabung?
Dan di hari ke delapan ini, sepertinya
semua kembali seperti biasanya. Pagi terasa hangat karena matahari sudah mulai
nampak. Senja sudah memperlihatkan semburat ungu. Malam juga sudah tidak terasa
lebih lama. Dan yang lebih membahagiakan adalah aku tidak lagi mendengar
pertanyaan klise dari orang-orang. Tapi, sepertinya tidur adalah cara yang
lebih menyenangkan untuk merayakan hari ke delapan ini.
Pada hari ke delapan ini aku bisa memulai
pekerjaan yang biasanya kulakukan. Mengerjakan laporan yang tertunda selama
tujuh hari. Membaca koran pagi dengan sesekali meminum kopi. Dan dilanjutkan
tidur seharian di kamar karena kebebasan harus dirayakan dengan terbebas dari
segala kegiatan. Namun, saya memilih untuk menonton televisi. Tapi sayangnya, bel
rumah berbunyi. Perayaan ini terganggu karena seseorang datang untuk
menyampaikan keterlambatan belasungkawa.
“Silahkan duduk, Mas”
“Permisi, Mas. Saya temannya Tata.
Apakah benar dia meninggal karena penyakit yang sudah lama ia derita?” tanyanya
dengan raut muka yang mempertontonkan kesedihan.
“Anda tahu dari mana perihal penyakit
istri saya? Mendiang istri saya pernah berkata bahwa hanya orang terdekatnya
yang mengetahui penyakitnya. Dan kalau saya boleh tahu, anda ini siapa?”
“Oh, maaf, saya lupa untuk berkenalan
terlebih dahulu. Saya Suryo, saya mantan kekasihnya Tata sewaktu SMA.” Ucapnya
sambil mengulurkan tangan, sayapun menjabat tangannya. “Jadi, apakah benar,
Mas, perihal kematian Tata memang seperti itu?”
“Iya, benar seperti itu, Mas.”
“Tata yang malang. Selama hidupnya dia
masih saja menyembunyikan segala kesedihannya. Bagaimana bisa ia hidup dengan
terus menerus menganggap bahwa dia baik-baik saja? Semoga surga adalah
tempatnya sekarang.” Ucapnya dengan air mata yang keluar dan menetes ke
bajunya.
“Sudahlah, Mas. Ikhlaskan saja,
sekarang tugas kita sebagai orang yang pernah dikenalnya adalah mendoakannya.
Tapi memang benar, dia selalu mengajarkan saya bagaimana hidup selalu memiliki
dua sisi berlawanan. Sedih dan senang. Datang dan pergi. Baik dan buruk. Memang
dia selalu sedih menjadi seseorang yang memiliki penyakit seperti itu, tapi dia
juga selalu senang karena telah memiliki alasan untuk mencintai dirinya
sendiri.” Jawabku
“Dia memang tak pernah berubah. Dialah
orang terkuat yang pernah saya kenal.” Ucapnya memuji istriku.
“Yasudah, Mas. Saya pamit pulang dulu.”
Tambahnya sambil memeluk saya dengan erat seakan dia yang lebih bersedih
daripada saya.
Saya mengantarkannya sampai pagar. Dari
belakang terlihat bahwa dia masih mencintai istriku. Aku ketahui dari caranya
memandang awan dengan penuh kesedihan. Serta raut muka kesedihan yang belum
juga hilang sejak dia masuk ke rumahku.
Akhirnya saya bisa melanjutkan perayaan
ini. Saya memilih untuk merebus air untuk membuat kopi. Ah, betapa kehilangan
istri adalah celaka bagi suami. Namun, bjel rumah kembali berbunyi ketika saya
sedang menunggu air mendidih. Mungkin mantan kekasih istriku yang lain—yang
masih mencintainya—pikirku.
“Silahkan masuk.” Aku berteriak karena
air sudah hampir mendidih. Mungkin perayaan ini bisa diganggu tapi tidak dengan
kopiku. Perlahan aku membawa kopi yang sudah selesai kubuat ke ruang tamu. Namun,
aku terkejut dengan bau parfum seorang wanita yang sangat kukenali. Pun
rambutnya yang bergelombang membuatku yakin bahwa dia adalah wanita itu.
***
Ketika itu aku sedang mabuk berat
karena mengetahui bahwa perusahaan sedang mengalami kebangkrutan dan akan
terjadi pemecatan besar-besaran. Ketakutan akan pemecatan membuat pikiranku
menjadi tidak stabil. Mulai dari bagaimana aku makan, bagaimana aku merawat
istriku, siapa yang bisa memberiku pekerjaan nantinya, dan semua pertanyaan
serupa bercokol dalam pikiranku. Hingga akhirnya aku pergi ke diskotik dan
memillih untuk mabuk. Dalam keadaan tidak sadar, aku berkenalan dengan wanita
itu. Wanita dengan rambut bergelombang, wajah oriental, parfum yang sangat
berbeda dengan parfum wanita-lain termasuk istriku, serta rajah berlian di
leher belakangnya membuat ingatanku bekerja dengan baik.
Keesokan harinnya aku bangun dan
mengecek gawaiku, ternyata ada 16 panggilan dari istriku. Yang aku ingat hanya
dibopong oleh seseorang karena memang sedang mabuk berat. Namun ketika aku
membuka selimutku, nampak seorang wanita dengan rajah berlian sedang tidur di
sampingku. Masih dalam keadaan belum sepenuhnya sadar, aku mencoba meraih baju
yang ada disampingku dan memakainya.
Berniat untuk pergi sesegera mungkin.
***
“Untuk apa kau datang kemari?” tanyaku
dengan terbata-bata.
“Seperti halnya orang lain. Menangisi
istrimu yang menyedihkan” Jawabnya dengan wajah menyeringai.
“Bajingan! Beraninya kau berkata
seperti itu pada istriku. Kurang ajar kau!” kemarahanku tak lagi bisa untuk
kutahan.
“Kau juga. Kau meninggalkanku sendirian
di hotel dengan keadaan telanjang!” ucapnya dengan nada sinis seakan membungkam
segala amarahku.
“Ketika itu kita sedang mabuk dan tidak
sadar. Dan aku pikir itu hal yang biasa terjadi dalam dunia malam dan bisa
dimaklumi.” Aku mencoba menjawab seadaanya.
“Ha ha ha. Semudah itu? Ah, tapi baiklah
aku bisa memaklumi itu.”
“Aku masih mengingat seberapa menggebu
kau mencumbuiku di malam itu. Semalam suntuk kita bercinta dalam keadaan mabuk.
Apa kau mengingat itu?” jawabnya sambil mengelus pahaku.
“Sudah kubilang padamu, ketika itu aku
dalam keadaan mabuk dan aku tidak tahu apapun yang kulakukan padamu. Yang
kuingat hanya bangun dalam keadaan telanjang disampingmu.”
“Seharusnya ketika kau bangun, kau
tidak pergi begitu saja.”
“Lalu apa maumu?”
“Mungkin saja kita bisa bertukar nomor
telepon, agar nanti ketika kau menginginkanku kau tak perlu repot ke diskotik
dan mencari perempuan dengan rajah berlian.”
“Aku tak mau membohongi istriku!”
“apa kau bercerita tentang malam itu
pada istrimu yang menyedihkan?” pertanyaan yang membuatku tak bisa berkata
lagi.
“Ah, tapi ketika istrimu tahu tentang
malam itu, dia pasti bisa memakluminya. Toh, dia sudah tak lagi bisa melayanimu
sebaik aku. Iya, bukan?”
“Pergi! Pergi kau wanita jalang!”
perkataan yang membuat aku marah dan tak tahan untuk segera mengusirnya.
“Hubungi aku jika kau butuh” jawabnya
sambil menyelipkan kartu nama di saku dadaku. Dia pergi dari rumahku menuju ke
mobilnya. Dari dalam jendela aku melihat dia sedang mengedipkan mata kanannya
sebelum melaju di jalan raya. Aku harap dia adalah tamu terakhirku hari ini.
Pada malam hari aku tak bisa tidur.
Hawa dingin dan angin kencang yang menggerakkan dahan-dahan menimbulkan suaran
yang mengusik tidurku. Dalam pikiranku malam ini, hanya ada perkataan wanita
dengan berlian di lehernya. Ucapannya berkecamuk dalam pikiranku. Menjelajahi
seluruh rongga otakku. Perkataannya membuatku menyesal pernah membohongi
istriku. Istriku sudah mati, bagaimana dia bisa memaafkanku? Lalu, bagaimana
surgaku? Aku tak mau ada di neraka bersama orang-orang yang kejam.
Aku bangun dari kasur dan berjalan ke
dapur. Berharap ada sisa minuman atau apapun itu yang membuatku lebih tenang.
Di dapur aku tak menemukan apapun, hanya gelas kosong, sendok kotor dan
beberapa pisau.
Segala pertanyaan dalam kepalaku kinihadir
di depanku dan memaksa untuk dijawab saat itu juga. Pertanyaan-pertanyaan itu
berubah wujudnya menjadi manusia. Aku mencoba berlindung dengan menggenggam
sebilah pisau. Mengharap mereka pergi dan tak memaksaku untuk menjawab
pertanyaan mereka. Tapi semakin aku melawan, semakin mereka memojokkanku. Aku dikelilingi
oleh pertanyaan-pertanyaan yang merubah wujudnya menjadi manusia. Satu per satu
dari mereka mengucapkan pertanyaan secara bergantian. Aku tak tahu harus
menjawab apa.
Dalam keadaan terengah-engah aku
memutuskan untuk memotong kemaluanku. Berharap salah satu dari mereka pergi
dari hadapanku. Aku segera memotong kemaluanku dengan pisau di tangan kananku.
Arrggghhhh!!!! Dengan tangan kiri aku memegang kemaluanku dan menunjukkannya
pada mereka. Salah satu dari mereka menghilang. Namun masih ada banyak manusia
yang mencecarku dengan pertanyaan. Aku memutuskan untuk memotong lidahku, lalu
telingaku, dan mencongkel kedua mataku. Satu per satu dari mereka menghilang.
Masih ada beberapa pertanyaan yang berteriak dalam pikiranku. Akhirnya aku
mengambil pisau yang lebih besar lalu memotong tangan kiri dan kedua kakiku.
Kini tinggal 1 pertanyaan yang berteriak dalam pikiranku. Aku tak tahu lagi
harus bagian tubuh mana lagi yang harus kupotong. Hingga aku terpikir untuk
memotong jantungku karena dialah saksi atas segala kebohonganku pada istriku.
Aku yang sudah tak tahan dengan pertanyaan yang berteriak dalam pikiranku. Aku
menyobek perutku dengan pisau di tangan kananku. Aku sudah tak tahan lagi.
Kulibas habis seluruh isi perutku dan berharap aku bisa mencincang jantungku
agar semua kebisingan ini selesai.
Akhirnya dalam ayunan pisau yang ke empat,
jantungku terpotong dan terbagi menjadi dua bagian. Dalam ayunan ke empat itu
pula, tubuhku kembali utuh. Namun, dalam penglihatanku kini, aku berada dalam
ruang yang memendarkan cahaya putih seperti kilat yang tak pernah berhenti. Disini
tak ada suara apapun. Tak ada suara angin. Tak ada suara gesekan semak belukar.
Tak ada suara nyamuk yang ramai pada tempat-tempat kumuh. Tak ada pertanyaan
menjengkelkan. Disini damai. Sangat damai. Sangat nyaman.
malang, 29 juni 2018
M Fianda Ruly Ananta
Tugas UAS
BalasHapusBtw aku kok jahat yooo :(
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus