PERTEMUAN

Karya M. Fianda Ruly Ananta

Pada sebuah hari dimana ini merupakan hari terbaikku. Aku yakin pertemuan ini akan hangat dan penuh dengan tawa. Dihiasi dengan alunan jazz—yang memang sudah kusiapkan sebelum kita akan bertemu. Anggur, aku yakin, dia pasti akan terasa manis—hingga pipiku nyeri dan aku kebingungan untuk meredakannya. Dan kau, Puan, pertemuan kita pasti akan menghadirkan gambar di benakku untuk waktu yang sangat lama. Tentang bagaimana kau tersenyum dan tertawa terpingkal-pingkal karena aku sudah merencanakan semua itu, kekasih. Aku sudah mencari apa yang kau suka, apa yang kau biasa tertawakan, dan apa yang membuatmu bersedih. Sudah kupersiapkan semua itu seperti pemaparan proyek kepada Sang Penguasa. Karena aku yakin, kau adalah isyarat Tuhan padaku untuk melabuhkan sejuta keluh kesah dan kelelahanku pada dunia yang tak punya identitas pasti.
Hari itu tiba, waktu yang sudah kita sepakati tidak kita khianati. Kau datang tepat pukul 4 sore, di tempatku. Ya, ketika senja sedang berwarna ungu walau ia tertutup gedung-gedung pencakar langit. Ah, bagaimana keindahan yang sudah dibuat oleh Tuhan dihalangi oleh manusia serakah dan tak tahu malu? Aku takut Tuhan akan marah dan aku tak bisa menikmati senja yang ungu itu. 

Aku masih ingat baju apa yang kau pakai dan bagaimana keadaan rambutmu melawan angin dan polusi di jalan. Kau memakai kaos oblong dengan lekukan yang kau sengaja di bagian lengan, betapa indahnya tubuhmu kala kau baru saja datang. Celanamu, ah, celana sobek itu masih saja kau pakai. Celana kotor itu, aku yakin kau tak pernah mencucinya lagi karena sangat lusuh terkena debu dan bekas kecelakaanmu dulu. Dan rambutmu, aku ingin tertawa. Bagaimana tidak? Rambutmu seperti tidak terurus karena tidak jelas kemana arah rambutmu—mungkin saja kau terkena badai di jalan. Sederhana, itulah kata yang pantas untuk jurus pikatmu yang baru kusadari saat itu juga. Saat kau datang dengan tanpa persiapan yang matang, kau masih terlihat cantik dan anggun bagiku—tentunya tidak bagi orang lain.

Aku pun masih ingat kalimat pertamamu setelah masuk ke apartemenku. Kau dengan tergesa-gesa berkata “hai, sudah menunggu lama? Maaf  ya, tadi jalanan sedang ramai karena ada demo oleh mahasiswa terhadap keputusan DPR”. Ah, kau masih saja sempat mengurus politik yang sudah tidak jelas kemana arahnya. Aku masih saja terpesona tanpa berhenti. Aku terhipnotis. Hingga akhirnya kau mengayunkan tanganku didepan wajahku dan berkata lagi “Kau, baik-baik saja?” Aku tersadar, dan segera membalas dengan sebisaku “tidak, aku selalu baik-baik saja, yang tidak baik-baik saja selalu politik tai kucing itu.” Ah, kenapa aku bisa menjawab seperti itu? Padahal aku sudah menyiapkan pembahasan yang pasti jauh dari hal yang hina itu. Biarlah, semoga kau tak tersinggung.

Kau menaruh jaketmu dengan bebas. Tanpa permisi kau duduk di sofa. Lalu kau duduk dan menyandarkan kepalamu dengan lelah seperti orang yang siap diberikan dongeng pengantar tidur. Aku pun siap memberimu dongeng, karena memang aku sudah mempersiapkannya jauh sebelum hari ini. Tetapi, tatapan matamu yang cokelat itu membuatku bingung untuk memulainya. Padahal banyak pembicaraan yang sudah kurencanakan dan pasti akan membuatmu tergelitik hingga tertawa. Tidak! Aku tak ingin melewatkan sepotong pembicaraan yang sudah kupersiapkan. Sayangnya, semua topic pembahasan itu hilang seketika aku menatap matamu. Aku bingung, semua diksi sudah menghilang dan aku tak tau dimana mereka. Bahkan aku yang mahir menyusun kata merasa diri tak berguna hanya karena tatapan matamu itu. Ah, bodoh! Itulah kata yang kuumpatkan pada diriku yang mendadak bodoh ini.

Aku makin kebingungan. Seluruh kekuatanku dalam mengingat sudah kuarahkan pada ingatan tentang pembahasan yang sudah kupersiapkan. Hingga darahku mengalir dengan tidak stabil, urat syarafku menegang dan jantungku berdetak dengan tanpa irama yang pasti. Aku hilang. Aku mengutuk ingatanku. Aku mengutuk diriku yang hina ini. Yang takluk padamu—wanita dengan kesederhanaan. Bagaimana bisa aku merusak pertemuan kita dengan kebodohanku.

Aku tidak ingin pertemuan kita tak berkesan hanya karena lidahku mendadak kelu dan otakku buntu. Aku ingin berbicara ngawur tapi aku takut dengan keyakinanku bahwa setiap kata memiliki ruh, nyawa, dan memiliki kehidupannya sendiri. Kata bukan hanya sekedar kata. Ia terbentuk dari huruf-huruf yang berloncatan mencari kekasihnya; setiap kalimat yang terbentuk adalah hasil dari liukan dan tabrakan hebat yang membentuk puisi bagi tiap pendengarnya. Aku tak mau mengkhianati itu. Tapi, kebohohanku ini membuatku ingin mengkhianati itu.

Tidak terasa, kebingunganku membuatku berkeringat dingin. Tanganku juga sudah berkeringat padahal aku hanya duduk dan memandangimu. Aku semakin cemas dan takut. Aku tak ingin berada dalam ingatanmu sebagai lelaki bodoh yang takluk di hadapan wanita. Sungguh! Itu adalah hinaan bagiku.

Sudah 17 detik aku menatap matamu dan aku tak bisa berkata. Ahaa, terbesit difikiranku untuk meninggalkan matamu dari pandanganku. Itu adalah candu—yang merasuk dan merusak diksi seorang sepertiku. Aku mencoba memalingkan mataku sejenak untuk melihat keadaan sekitar dan mencoba mengingat lagi apa yang sudah kuingat. Ada poster The Beatles. Ada jam dinding yang semakin terdengar karena kesunyian ini. Ada gelas dan botol anggur yang kubeli semalam. Ah, aku lupa, kenapa tidak kutawarkan padamu anggur itu? Dasar bodoh!

“apakah kau mau anggur? Aku sudah membelinya untuk jamuan spesial ini.” Aku memulainya dengan nada yang sopan.

“kenapa tidak?” jawabmu dengan tenang. Ah, kenapa kau masih saja sederhana. Dengan isyarat itu, aku berani menuangkan anggur di gelas itu. Terdengan suara gemericik air yang menyertai di tiap anggur itu turun. Aku yakin kau juga mendengarnya karena memang keadaan sunyi. Bahkan, tegukanmu ketika meminum anggur ini juga terdengar. Ah, bodoh.

“Anggur yang enak, kau beli dimana?” tambahmu ketika gelas pertama sudah kau teguk. Aku kalah. Kaulah yang memulai pembicaraan ini. Tapi aku tak mau kalah telak denganmu—wanita sederhana. Pertanyaanmu membuatku ingat semua perbincangan yang sudah kusiapkan matang sebelum ini. Tapi aku berterima kasih padamu sebab tanpa pertanyaanmu mungkin aku hanya keledai bodoh di kursi parlemen. Tiba-tiba saja aku menjadi cerewet, karena aku sudah mengingat kembali apa yang ingin aku sampaikan padamu. Ah, bodoh, hanya karena mata cokelat itu aku terdiam dan hilang ingatan.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, senja sudah hilang—betapa menyedihkan suatu perpisahan—dan kau sudah mabuk, wajahmu memerah mirip kepiting rebus. Tiba-tiba kau merebahkan dirimu di karpet. Mungkin sudah lelah dengan segala ocehanku. Aku juga. Akupun lelah bercerita. Aku mengikutimu merebahkan diri di karpet. Hingga tanpa sadar kita berpagutan tanpa henti. Kita menyatu dengan gairah yang menggebu. Seakan esok tak pernah ada lagi.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIAT MENGHADAPI UMUR 27

Cuti Patah Hati

The One With Not to Fail In Love