Rileks: Sebuah Kaleidoskop Tentang 2022

 Hallo, Blog.  

Sesuai dengan judul, rileks menjadi mantra saya di tahun ini. Saya selalu mengucapkan  "Rileks, Rul" secara berulang-ulang di kepala saya pada momen yang tidak bisa saya tangani. Panik? Tentu. Tapi saya percaya bahwa tidak semua masalah harus saya selesaikan sendiri. Mungkin orang lain akan datang dan menyelesaikannya. 

Banyak hal yang saya alami di tahun ini. Saya kira kalian juga. Tentu ada yang baik dan ada yang buruk. Belum tentu menarik untuk diceritakan tapi akan saya ceritakan dengan menarik. 

Pertama, ditahun ini saya beranjak 25 tahun. Umur keramat, katanya. Banyak dari teman saya yang sudah menikah dan punya karir cemerlang. Sebagian mungkin masih seperti saya yang terseok-seok di umur yang makin mendapatkan tekanan sana-sini. Pada titik ini saya menyadari bahwa saya harus rileks. Tarik nafas dalam dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja. 

 Banyak hal yang telah saya alami. Tetapi, saya akan bercarita dua hal di atas. Cinta dan Pekerjaan.

Cinta. Hal yang abstrak. Jadi mendapatkan cinta buka sesuatu yang saya jadikan goal di tahun lalu. Tapi, apa daya, kita tidak pernah bisa tahu kapan kita akan jatuh cinta, bukan? Lagi-lagi, setelah cinta itu tumbuh, nyali saya mulai hilang entah ke mana. Ketika nyali itu muncul, ia memilih untuk bersama orang lain. Menyakitkan. Saya percaya bahwa apa yang tak bisa saya miliki, itu tandanya bukan sesuatu yang bisa saya miliki. Saya hanya membiarkan waktu bekerja. Semua akan indah pada waktunya, bukan? 

Akhirnya? Dia menjadi orang pertama yang saya ceritakan tentang hari-hari melelahkan, keramaian jalanan, dan berbagi meja makan. Sebaliknya, saya mnejadi orang pertama yang dia ceritai tentang kesibukannya, dan semua hal yang berada di waktu bersamaan. Ya, kami saling berbagi. . 

Saya akan ceritakan sedikit dari banyak hal menakjubkan tentang dia. Dia cinta kucing. Mungkin lebih dari dia mencintai saya. Tidak apa-apa. Sudah. Itu saja. Kami lebih suka hubungan yang privat dan tidak diketahui banyak orang. 

Pekerjaan. Ini hal paling berat yang pernah saya lalui. Mungkin Tuhan memahami bahwa saya bukan orang yang menghargai banyak hal dalam sebuah pekerjaan:  waktu. Saya orang yang serba ngaret dan berujung terlambat. Jika kalian bertanya tentang saya kepada sahabat saya, dia tidak akan bilang kalau saya tepat waktu. Masuk kuliah, telat. Lulus kuliah, telat. Mungkin pekerjaan juga akan datang terlambat. 

Sempat mengalami ketakutan untuk membuka email karena setahun saya seringkali ditolak. Terkadang stres. Lagi, saya mencoba untuk rileks dengan keadaan. Selama itu saya mengisi waktu dengan main film, bikin naskah, menggarap pentas Sandur dan melakukan apa yang dilakukan Bapak dan Ibu untuk menghidupi saya selama 25 tahun saya hidup: segalanya. 

Dan... 

Tepat setahun, saya lulus sejak Juli 2021, di juli 2022 saya mendapat tawaran untuk mengarap sebuah pentas di SMAN 1 Malang. Tidak banyak uang yang saya hasilkan. Pada tahap ini saya menyadari bahwa tidak semua pekerjaan itu worth it, tetapi semua pekerjaan layak untuk diselesaikan dengan baik. Akhirnya, sekarang saya jadi pengajar ekstrakurikuler resmi di sana. Yeay. Mungkin, mengajar teater menjadi pelampiasan saya bermain teater setelah tidak memiliki komunitas lagi. 

Jika tahun 2022 memiliki soundtrack, sudah tentu adalah lagu dari Rumah Sakit - Apa yang Tak Bisa. Dalam lagu ini, ada lirik yang berkata bahwa "Apa yang tak bisa kau raih walau kau t'lah berupaya// Itu hanya tanda kau tak membutuhkannya". Itu terbukti benar. Sepanjang tahun ini saya belum diterima kerja, hanya mengajar teater dan melakukan kerja editorial. Belum jadi sesuatu yang bisa saya banggakan pada saat reuni nanti. 

Mungkin belum waktunya, mungkin tahun depan. Sepertinya ada hal lain yang ingin disampaikan oleh-Nya. Pada akhir tulisan ini, saya akan mengutip dialog di film Reality Bites.

“Honey, the only thing you have to be at 23 is yourself.”

Tabik.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIAT MENGHADAPI UMUR 27

Cuti Patah Hati

The One With Not to Fail In Love