Musik, Fesyen, dan Komersialisme
Hallo, Blog.
Tidak bisa dipungkiri bahwa mendengarkan musik bisa kita lakukan dalam kondisi apapun, entah di keramaian atau di tempat paling sepi di mana kita sering menyendiri untuk menyesali. Kita juga bisa mendengarkan musik di manapun, entah di toilet atau di sepanjang jalanan. Musik menjadi teman terbaik menyusuri jalan sambil menangisi kepergian mantan. Musik juga terkadang memberi nasehat dalam hidup. Jelas, kita punya lagu yang menjadi gacoan dalam kondisi tertentu yang terkadang terputar sendiri di kepala ketika momen tersebut muncul. Lagu Something milik The Beatles selalu terputar di kepala saya ketika saya sedang duduk berdua bersama orang yang saya sayangi.
Beberapa orang berpendapat bahwa lagu yang memilih pendengarnya, dan saya sepakat akan pendapat tersebut. Sampai hari ini saya memiliki musik yang selalu menjadi kenikmatan tersendiri yang seakan menjadi tempat yang akan saya tuju ketika saya butuh pelukan. Saya yakin pembaca juga merasakan hal yang sama: memiliki musik yang selalu menjadi "rumah" untuk pulang, yang menjadi teman ketika kesepian.
Musik dan fesyen adalah 2 hal yang saling mengisi. Musik selalu menghadirkan fesyen yang ikonik, sedangkan fesyen menjadi identitas pecinta musik. Kita bisa melihat bagaimana fesyen di tiap era. Tidak hanya gaya berpakaian, tapi gaya rambut juga. Kalau diamati pada tahun 80an, di mana eranya musk rock, semuanya seakan memakai pakaian yang serba kulit. Sedangkan di tahun 90an, eranya musik Grunge, semuanya memakai baju serba bolong layaknya Kurt Cobain.
Kombinasi mematikan antara musik dan fesyen melahirkan komersialisme di dalamnya. Segala sesuatu kini bisa menjadi barang dagangan. Bahkan, hal paling aneh yang saya temui belakangan adalah nafas Billie Ellish yang terjual dengan harga ratusan juta rupiah. Aneh! Sepertinya, asal dicap milik seorang Artist semua bisa menjadi uang. Melihat pasar kaos band yang ramai, kini juga banyak barang bootleg yang ramai terjual di toko online dan instagram. Menjengkelkan memang melihat orang-orang yang memilih untuk menjual barang yang tidak original. Saya membenci mereka karena keuntungan penjualan itu tidak akan masuk ke saku si artist. Anehnya, barang-barang bootleg juga sangat laku di pasaran. Pokoknya tampil keren! mungkin menjadi slogan para pembeli barang-barang bootleg ini.
Dahulu, merchandise hanya diluncurkan hanya sebagai promosi album atau oleh-oleh dari tour. Hingga kini, banyak band yang mengeluarkan official mercandisenya sebagai pemasukan band tersebut. Telebih untuk band indie, penjualan merchandise menjadi penting kehadirannya. Ketika band/penyanyi dihajar pandemi covid yang berlangsung hampir 2 tahun, penjualan merchandise menjadi salah satu pemasukan selain platform streaming. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh SBJ Atlas, penjualan merchandise serta layanan berlisensi mencapai 315,5 miliar dolat US di tahun 2021, peningkatan sebanyak 7,75% dari tahun 2019.
Kecintaan saya terhadap musik berbanding sama dengan kecintaan saya membeli merchandise band. Namun, berbanding terbalik dengan isi dompet. Bagi saya, masuk ke toko kaos musik adalah petualangan yang selalu menyenangkan. Kadang terbeli, kadang tidak. Beberapa hasil pembelian itu hanya karena artworknya keren atau memang saya suka musiknya. Tidak banyak, tapi saya bangga dengan apa yang saya miliki. Ada hal aneh ketika saya menggunakan merchandise band, saya merasa lebih keren dari Robert Downey Jr. Tapi kalau Robert Downey pakai kaos band, saya jadi kalah telak lagi. Hehehe.
Ada banyak tempat saya membeli kaos band beserta merchandise lainnya. Kadang di official store band, atau di toko yang fokus menjual merchandise, seperti Rocknation. Tapi sekarang saya tidak perlu membeli jauh-jauh karena salah satu teman baik saya kini membuka toko yang menjual official merchandise sebagai bentuk kecintaan terhadap musik dan kebencian terhadap barang-barang bootleg. Bootleg sucks! katanya. Ohiya, nama tokonya adalah Bembi Holy. Barang-barang yang dijual memang tidak banyak, tapi pilihan band dan artwok merchandisenya tidak saya ragukan seleranya. Sekali lagi, selamat berbelanja!
Untuk pembaca yang berniat membeli kaos band yang original sebagai bentuk dukungan terhadap band favorit, saya merekomendasikan untuk membeli di toko milik teman saya. Tapi, kalau mau barang bootleg yang murah dan murahan, kalian harus segera bertaubat dan segera kembali ke jalan yang Bembi Holy!
Tabik!
Komentar
Posting Komentar