Kenapa Saya Merokok
Hallo, Blog.
Terhitung sudah satu dekade saya menjadi perokok yang khaffah. Sejak SMP kelas 3 lebih tepatnya saya memulai jalan hidup yang tidak sehat ini. Anehnya, sejak awal saya sudah tahu kalau merokok itu tidak sehat, tapi tetap saya lakukan hingga sekarang. Bahkan, saya sampai hari ini juga tidak menemukan alasan yang tepat kenapa saya dulu memutuskan untuk merokok.
Beberapa kawan saya merokok karena dipengaruhi oleh lingkungan. Sedangkan saya memilih untuk merokok secara otodidak. Berbekal nekat beli 2 batang di Mak Sah, saya bawa pulang untuk merokok di belakang rumah. Hari pertama merokok, tubuh masih perlu penyesuaian. Mulut terasa tidak enak, masih pusing, masih batuk-batuk, dan takut ketahuan.
Fase yang paling sulit itu ketika beranjak SMA di mana saya sudah ketagihan tapi belum ada pemasukan dan hanya mengandalkan uang saku sekolah saja. Seringkali teman saya bertanya "Kamu merokok terus gitu dapet uang dari mana?" Saya yang jarang berpikir langsung saja menjawab "Ya, perokok itu juga punya rejekinya masing-masing" Jawaban asal itu terbukti hingga sekarang. Hampir setahun ini saya tidak ada pekerjaan, tapi untuk merokok selalu saja ada rejekinya. Alhamdulillah.
Dulu, pacar saya sering bertanya, "Kenapa kamu ngerokok sih? Gak bikin kamu keren juga" Menyakitkan. Saya hanya menjawab "Merokok itu salah satu hal selain sholat yang bisa dilakukan secara tuma'ninah. Kapan lagi kamu liat pacar kamu khusyuk kalo gak lagi ngerokok"
Lalu... Kenapa saya merokok?
#1 Membuat saya lebih mudah untuk berbaur.
Seringkali saya berbagi rokok dengan kawan sambil berbagi cerita. Dengan adanya rokok di tangan, cerita lebih mudah untuk mengalir. Bahkan, hanya karena berbagi rokok, saya bisa mendapatkan teman baru. Terlebih dunia yang saya jalani dekat dengan para perokok.
#2 Cara mudah untuk santai
Kadang dunia terlalu cepat dan mudah telewat. Merokok adalah cara untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk yang sering menyiksa. Semua perokok pasti memilih makan cepat dan menyisakan waktu untuk merokok barang sejenak lalu melanjutkan pekerjaan yang harus diselesaikan.
#3 Membantu saya berpikir
Skripsi adalah hal yang sulit dan sering mandek karena tiba-tiba tidak bisa berpikir. Bagi saya itu adalah tanda untuk istirahat dan merokok. Sembari merokok, kadang muncul ide tentang apa yang harus saya tulis selanjutnya,
#4 Saya hanya suka
Saya pernah sekali berniat untuk berhenti. Tapi berhenti di minggu pertama. Rasanya seperti meninggalkan cinta pertama. Berat. Ketika kembali merokok, rasanya seperti bertemu kekasih yang telah lama tidak bertemu. Tuntas.
Kira-kira seperti itulah kenapa saya masih merokok hingga hari ini. Dan masih belum berniat untuk berhenti merokok lagi.
Tabik.

Komentar
Posting Komentar