Analisa Gembel: Empat Tahap Mengatasi Teman yang Kompetitif
Hallo, Blog.
Pernahkah kamu berada dalam sebuah pesta yang sangat meriah? Sebuah pesta yang hangat dengan obrolan yang menyenangkan di mana kamu bisa mengambil minuman yang ada di sana sambil berbincang dengan teman lama. Kemudian, di tengah pesta kamu menemukan teman lama yang kini terbalut dengan gaya lebay dan berbicara tentang banyak hal yang tidak ia tahu? Seperti itulah rasanya memiliki teman yang kompetitifnya kelewat kompetitif. Bikin jengah..
Terkadang, memiliki teman yang kompetitif memberikan saya hasrat untuk tidak ingin ketinggalan, sehingga membuat saya ingin belajar lebih banyak hal. Saya bukanlah orang yang kompetitif, tapi jika teman saya bisa, kenapa saya tidak? Kita benci jika teman kita lebih sukses. Seperti Morrissey pada lagunya yang berjudul "we hate it when our friends become succesful". Tapi, jika memang saya sudah berkali-kali mencoba dan hasilnya tidak sebaik yang saya harapkan, saya yakin bahwa itu buka jalan saya dan saya keluar.
Pernah suatu hari, teman saya menjadi pemateri di sebuah diskusi, filsafat lebih tepatnya. Saya mencoba untuk belajar filsafat agar suatu ketika saya juga bisa menjadi pemateri di sebuah diskusi. Namun, ya namanya kapasitas otak tiap orang ada batasnya, bukan jadi paham ilmu filsafat, malah migrain saya yang kumat. Akhirnya saya berhenti belajar filsafat dan fokus pada apa yang saya bisa. Akhirnya, saya jadi pemateri di diskusi teater. Imbang.
Namun, ada juga teman saya yang kelewat kompetitif. Seperti yang saya tulis sebelumnya, Memiliki teman yang selalu ingin lebih dari yang lain itu bikin jengah. Bertahun-tahun bersama, akhirnya saya memiliki beberapa cara untuk mengatasi teman yang kompetitif.
1. Tunjukkan Dukunganmu
Tak bisa dipungkiri bahwa teman yang kompetitif memerlukan dukungan dari teman terdekatnya. Sudah menjadi tugas tidak tertulis bagi seorang teman untuk mendukung temannya. Nah, di sinilah kamu memainkan peran. Ariel Haryanto pernah berkata pada saya melalui DM twitter, bahwa "Ilmu itu seperti api, teman diskusi yang membuatnya berkobar". Jika temanmu kompetitif di ranah keilmuan yang bisa kita gapai, tunjukkan dukungan dengan bertanya pada diskusi. Saran: cobalah untuk tidak tahu apa-apa. Dengan begitu, akan terjadi diskusi yang menarik, bukan perdebatan.
2. Ciptakan Batasan
Kita punya kapasitas dengan semua hal di dunia ini. Tidak semua orang paham pasar saham. Jadi, coba ciptakan batasan yang bisa didiskusikan dan tidak. Jika tidak bisa mengikuti sebuah topik, jelas rasanya seperti berjalan dengan kaki terluka. Memang, menjadi support system adalah perbuatan yang baik, tapi kadang juga melelahkan. Jadi, dengan adanya batasan itu kita bisa mengontrol kadar lelah yang akan kita terima. Dengan adanya batasan tersebut, mungkin saja ia bisa berubah.
3. Konfrontasi!
Jika temanmu tidak berubah, ini adalah waktu yang tepat untuk konfrontasi! Mungkin bisa diawali dengan "Kamu masih mau berteman, tidak?" atau "apakah kamu selalu menjengkelkan seperti ini?". Kadang itu perlu untuk pengingat pada teman kompetitifmu agar tidak menjengkelkan. Butuh nyali, tapi sebanding dengan hasilnya.
4. Waktunya Tidak Peduli
Jika dengan konfrontasi, ia masih tidak kunjung berubah. Itulah saat yang tepat untuk tidak peduli. Anda bisa mengalihkan ke topik pembicaraan lain yang jauh berseberangan. Anda juga bisa tidak mengacuhkan sama sekali dengan apa yang ia bicarakan. Terdengar kasar, tapi bisa dimaklumi. Earphone dan spotify premium adalah senjata andalan saya jika teman saya mulai membahas hal yang tidak menarik buat saya.
Kira-kira, itulah beberapa tahapan yang saya lakukan dalam menyikapi dan memperlakukan teman yang kompetitif. Bisa ditiru atau tidak. Terima kasih sudah membaca.
Tabik.
Komentar
Posting Komentar