Hallo, Blog Kemarin saya mendapati kabar bahwa salah satu teman saya mengalami patah hati setelah menjalin hubungan selama kurang lebih 2 tahun. Turut prihatin. Tapi, yang menjadi ironi adalah ia harus tetap masuk kerja dengan hati yang hancur berkeping-keping. Seakan-akan dunia kerja tidak memiliki waktu untuk kaum pekerja mendekam di dalam kamar dan merayakan kesedihan. Bahkan tidak satu hari! Padahal kalau kita menengok lebih jauh, bukankah semua akan lebih baik jika seimbang. Misal, ada hari ibu, ada juga hari ayah. Nah, kalau ada cuti untuk pernikahan di mana pekerja merayakan kebahagiaan, seharusnya ada cuti patah hati untuk merayakan kesedihan. Saya rasa itu adalah hal yang manusiawi, juga layak didapatkan oleh pekerja yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk perusahaan.. Selain itu, saya rasa tidak ada pekerjaan yang selesai ketika dikerjakan dengan kondisi patah hati. Setidaknya saya demikian. Mungkin ini nantinya bisa dimasukkan dalam hak-hak pekerja terb...
Komentar
Posting Komentar