Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

Apa yang Harus Kamu Dengarkan Sebelum Meninggal #5

Gambar
Mendengarkan track Red Hot Chilli Peppers selalu bisa membuat saya menggelengkan kepala seperti sedang senam SKJ. Awal tulisan sudah bercanda. Meski tidak lucu, saya tetap berusaha. Berkarir sejak 1983 tidak membuat mereka, Red Hot Chilli Peppers, berhenti berkarya. Band yang kini dikawal oleh Kiedis, Flea, Frusciante, dan Chad dikabarkan tengah membuat album. Mendengar kabar yang menyenangkan itu membuat saya antusias hingga dibuatlah tulisan ini. Kembalinya John Frusciante dalam band juga membuat seluruh penikmat RHCP tidak sabar menunggu album terbaru dari band ini. Apakah menarik? Kita tunggu saja nanti.  Ohiya, saya mulai mengenal Red Hot Chilli Peppers dari kaset pita milik kakak saya, kalau tidak salah album Stadium Arcadium. Pertama kali mendengarkan langsung menggerakkan kaki mengikuti tempo. Sejak itu juga saya memuja Red Hot Chilli Peppers. Lalu kenapa saya menulis tentang mereka? Tidak lain dan tidak bukan adalah memang musik yang mereka bawakan itu menarik buat ...

Belajar Teater #1: Sebuah Usaha Menyembunyikan Kesedihan

Gambar
Pertama kalinya saya akan membahas teater dengan khusyuk. Lumayan nderedeg untuk membahas teater karena saya merasa tidak begitu paham dengan teori yang ribet. Jadi, saya akan membahas apa yang saya dapatkan dari belajar teater. Untuk teori-teori, nanti saja ya kalau mental saya sudah siap. Mempelari teater sedari SMP hingga SMA tapi saya merasa "gitu-gitu aja" membuat saya merasa perlu untuk mempelajari teater lebih di masa saya kuliah. Sudah beberapa naskah yang saya mainkan. Kalau tidak salah, naskah pertama yang saya mainkan adalah RT 0 RW 0 karya Iwan Simatupang, Bui karya Akhudiat, dan Sayang Ada Orang Lain karya Utuy Tatang Sontani. Lalu naskah yang saya garap sebagai sutradara adalah Mengapa Kau Culik Anak Kami? karya Seno Gumira Ajidharma dan Prodo Imitatio karya Arthur S Nalan. Tidak, saya tidak berniat memamerkan naskah yang saya garap dan mainkan. Foto: Suminta, karakter dalam naskah Sayang Ada Orang Lain.   Proses yang sangat berarti dalam penggara...

Panggung

Topik yang tidak pernah saya jamah sebelumnya, Teater. 4 tahun lebih mengikuti latihan, pentas, dan menonton pentas, tidak membuat saya merasa kompeten untuk membahas lebih dalam sebagai sebuah tulisan. Sering membicarakan, tapi masih saja merasa tidak mampu untuk menulis tentang teater.  Tenang saja, di tulisan kali ini, saya tidak membahas ndakik-ndakik tentang teater. Saya hanya akan mengungkapkan kerinduan saya di dalam maupun di luar panggung karena hampir sepanjang tahun ini saya tidak mengalami proses penggarapan naskah bersama kawan-kawan. Saya rindu. Sungguh. Panggung akan selalu jadi tempat semua kenangan saya tentang teater akan menjadi satu hal yang sentimental. Bahkan, tadi siang, saya mengunjungi tempat yang biasanya saya dan kawan-kawan berlatih dan menggarap naskah. Bukan sebuah tempat luas seperti yang ada dalam bayangan kalian, hanya sudut kecil di samping gedung fakultas yang selalu kami bayangkan sebagai panggung besar di era Yunani Kuno.  Say...

-

Kali ini saya akan membahas tentang pandemi yang menyebalkan dan merugikan. bukan membahas tentang konspirasi atau politik di belakang ini atau apapun yang menyebalkan belakangan ini. Tapi apa yang saya dapatkan di masa-masa sulit seperti ini, dalam islam ini disebut hikmah. CMIIW. jangan lupa berdoa agar kita bisa melewati pandemi yang bang*sat ini.  Semenjak saya di rumah saja dan tidak sesering dulu keluar rumah, saya mulai mengamati bahwa saya lebih menyukai gaya tampilan yang sederhana, sangat sederhana. bukan hanya saya tidak mampu membeli barang mahal yang penuh corak, tetapi juga karena saya sadar bahwa "kalo ganteng, gimanapun ya tetep ganteng." Ini bukan ngomongin diri saya. Tetapi memang begitu adanya. Tidak, saya hanya merasa lebih percaya diri ketika memakai baju polos tanpa motif dan corak apapun. Ya, pandemi ini membuat saya menemukan satu cara untuk lebih percaya diri selain memanjangkan rambut.  Sudah sekitar 4 bulan saya di rumah, membuat saya menge...