Postingan

KIAT MENGHADAPI UMUR 27

Gambar
Hallo, Blog.  Tidak terasa sudah hampir setahun saya menjadi buruh.  Tanpa saya sadari sudah hampir 6 bulan saya berumur 27 tahun. Ada apa dengan 27? Umur 27 adalah umur yang serba aneh. Terlalu tua untuk melakukan hal-hal yang dilakukan anak muda. Terlalu muda untuk melakukan hal-hal yang dilakukan orang tua. Saya masih belum siap untuk merawat burung pagi-pagi, tapi juga sudah tidak mampu untuk ngopi hingga pagi.  Kata sahabat saya, umur 27 adalah klimaks dari umur 20an yang mana banyak keputusan besar yang harus diambil yang menentukan akan jadi seperti apa hidup yang kita jalani. Finansial, kehidupan percintaan, karir, dan banyak lagi keputusan yang harus kita ambil. Selama 27 tahun hidup, banyak kemunduran yang harus saya ambil. Dari sana saya menata diri untuk melangkah lagi. Kalau pembaca sekalian belum beranjak 27 mungkin ini bisa jadi kiat-kiat untuk survive di usia keramat ini.  Fokus ke self-improvement Banyak orang yang mengatakan  "try something, ma...

Cuti Patah Hati

Gambar
 Hallo, Blog Kemarin saya mendapati kabar bahwa salah satu teman saya mengalami patah hati setelah menjalin hubungan selama kurang lebih 2 tahun. Turut prihatin. Tapi, yang menjadi ironi adalah ia harus tetap masuk kerja dengan hati yang hancur berkeping-keping. Seakan-akan dunia kerja tidak memiliki waktu untuk kaum pekerja mendekam di dalam kamar dan merayakan kesedihan. Bahkan tidak satu hari! Padahal kalau kita menengok lebih jauh, bukankah semua akan lebih baik jika seimbang. Misal, ada hari ibu, ada juga hari ayah. Nah, kalau ada cuti untuk pernikahan di mana pekerja merayakan kebahagiaan, seharusnya ada cuti patah hati untuk merayakan kesedihan.  Saya rasa itu adalah hal yang manusiawi, juga layak didapatkan oleh pekerja yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk perusahaan.. Selain itu, saya rasa tidak ada pekerjaan yang selesai ketika dikerjakan dengan kondisi patah hati. Setidaknya saya demikian. Mungkin ini nantinya bisa dimasukkan dalam hak-hak pekerja terb...

The One With a Letter for The Readers

 Hallo, Blog. Hai, Kamu.  Ini adalah surat tentang rasa terima kasih saya kepada kalian yang menyempatkan waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya.  Apalah arti penulis tanpa pembacanya? Apalah arti musisi tanpa pendengarnya? Apalah arti teater tanpa penontonnya. Dunia seni eksis hingga sekarang karena adanya support system, yaitu penikmatnya. Bagi saya yang menyempatkan diri untuk menulis, tentu saja, pembaca sekalian adalah support system yang membuat saya semangat menulis lagi.  Pada awalnya saya tidak menghiraukan tulisan apa yang akan saya tulis karena saya tidak berpikir bahwa tulisan saya cukup menarik untuk dibaca sampai selesai. Tapi, anehnya statistik tulisan saya selalu meningkat. Mengetahui bahwa ada orang yang membaca tulisan yang saya bagi di sini membuat perjalanan menulis menjadi hal yang menarik. Seperti ada di sebuah ruang yang berisi percakapan antara saya dan pembaca.  Hal seperti itu membuat saya berpikir untuk menulis sesuatu yang bisa meny...

The One With Not to Fail In Love

 Hallo, Blog.  Saya yakin setiap orang pernah merasakan kegagalan dalam percintaan. Sering kali setelah break up  rasa cinta itu tidak langsung pergi. Serasa ada lubang kosong di hati yang tetiba datang. Itu wajar. Bahkan, WS Rendra pernah berkata di bukunya "Usia cinta lebih panjang dari usia percintaan". Mari kita anggap perpisahan sebagai pelajaran bukan sebagai mimpi buruk tengah malam.  Saya selalu merasa bahwa menemukan seseorang itu perihal waktu. Dan saya sadar bahwa merawat dan meruwat hubungan romansa bukanlah sesuatu yang mudah. Mungkin itulah mengapa salah satu teman saya enggan untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita. Saya tidak heran karena memang banyak yang harus dinegosiasikan (baca: mengalah).  Namun, di hubungan saya yang sekarang semua terasa mudah dan belum ada pertengkaran besar yang menjadikan suasana "dingin". Semoga tidak . Saya sadar bahwa semua itu karena saya menerapkan pelajaran yang saya dapat di percintaan sebelumnya. Yap! ...

The One With a Changing

   Hallo, Blog. Sudah 2024 dan pencapaian saya selama ini masih belum cukup untuk disandingkan dengan Messi yang sudah mendapatkan 4 Ballon D'or. Sungguh njomplang. Tapi tidak usah kaget.  Banyak yang terekam dan lebih banyak yang terlewatkan. Kita belajar dari apa yang gagal. Kita perbaiki di waktu yang akan datang. Begitulah seharusnya, bukan? Sayangnya, kita terlambat menyadari sesuatu yang berharga telah terlewatkan. Waktu.  Banyak yang terekam di ingatan saya, seperti mengajar teater ke anak-anak yang beranjak dewasa, bekerja di laundry, bekerja di kedai kopi--saya masih belum bisa membuat latte art--meski hanya sebentar, keliling kota sendirian untuk berbicara dengan diri saya sendiri, menemani pacar saya melewati badai skripsi, menonton Silampukau, dan banyak hal yang tidak bisa saya ceritakan kepada kalian. Akhirnya di bulan September, saya memutuskan untuk pulang ke rumah dan menghilang di antara hingar-bingar kota Malang.  Memang benar, sejauh apapun k...

The One With a Break

 Hallo Blog.  Saya menulis tulisan ini dengan album Ok Computer dari Radiohead .  Belakangan ini saya takut dengan banyak hal. Itu sangat mengganggu. Salah satunya, yang paling mengganggu, adalah saya takut untuk menulis.  Mungkin perlu penanganan lebih lanjut. Jadi, saya akan rehat beberapa waktu. Semoga pembaca baik-baik saja. Tabik. 

The One About Writing

Gambar
 Hallo, blog.     Beberapa hari ke belakang, saya merasa lupa bagaimana menyenangkannya menulis waktu dulu. Desir untuk menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga menekan tombol enter untuk membuat paragraf baru. Bahkan keinginan menulis itu rasanya hilang entah ke mana. Mungkin saja karena dulu saya aktif di kelompok menulis yang saya buat bersama sahabat saya, Adhit, dan sekarang tidak lagi. Sekarang saya sedang belajar untuk menjadi barista di Bedjana   Masih ada waktu untuk menulis, hanya saja belakangan ini saya sulit berkonsentrasi.  Jadi, agar tetap aktif menulis, saya memutuskan untuk tetap mengisi blog, yang kini terasa usang dan asing, untuk menjaga kemampuan yang pernah saya pelajari. Setidaknya, menulis masih menjadi sarana untuk mengungkapkan sesuatu kepada banyak orang. Sebenarnya podcast adalah sarana yang bisa saya manfaatkan. Tapi, kurang menyenangkan rasanya berbicara sendiri dan mendengar suara sendiri. Jadi saya memilih untu...