The One About Writing

 Hallo, blog.   

Beberapa hari ke belakang, saya merasa lupa bagaimana menyenangkannya menulis waktu dulu. Desir untuk menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga menekan tombol enter untuk membuat paragraf baru. Bahkan keinginan menulis itu rasanya hilang entah ke mana. Mungkin saja karena dulu saya aktif di kelompok menulis yang saya buat bersama sahabat saya, Adhit, dan sekarang tidak lagi. Sekarang saya sedang belajar untuk menjadi barista di Bedjana  Masih ada waktu untuk menulis, hanya saja belakangan ini saya sulit berkonsentrasi. 

Jadi, agar tetap aktif menulis, saya memutuskan untuk tetap mengisi blog, yang kini terasa usang dan asing, untuk menjaga kemampuan yang pernah saya pelajari. Setidaknya, menulis masih menjadi sarana untuk mengungkapkan sesuatu kepada banyak orang. Sebenarnya podcast adalah sarana yang bisa saya manfaatkan. Tapi, kurang menyenangkan rasanya berbicara sendiri dan mendengar suara sendiri. Jadi saya memilih untuk menulis saja. 

Sejak saya belajar untuk menulis, rasanya seminar penulisan dengan tagline "jago menulis dalam satu minggu" hanyalah omong kosong. Setidaknya, begitulah yang saya ketahui. Menulis bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Perlu komitmen dan belajar selama bertahun-tahun. Mirip dengan cinta, kan? Hanya saja, menulis adalah konsep yang lebih mudah untuk dipelajari daripada wanita. 

Teman saya dulu berkata kalau "Tingkat produktif seseorang dalam menulis adalah ketika ia jatuh cinta dan patah hati". Memang benar, rasanya saya produktif menulis hanya pada masa senang dan sedih saja. Saat hubungan sedang baik-baik saja saya jadi malas untuk menulis. Tapi ada yang kurang dari apa yang disampaikan, harusnya ia berkata kalau ada di sebuah hubungan yang jenak juga bikin perut jadi buncit. 

Salah satu dosen saya pernah berkata, yang masih saya ilhami hingga sekarang, bahwa "Karya tulis adalah cerminan diri paling dalam seseorang". Itulah kenapa ketika kita membaca banyak karya dari satu penulis, kita merasa dekat karena kita merasa kenal dengan sosoknya. 

Saya banyak membaca karya fiksi ketimbang yang lain. Saya menyukai keindahan penyampaian sebuah cerita cerita, ide di belakangnya, sudut pandang, diksi, dan emosi yang kita dapat ketika membaca sebuah tulisan. Kadang kita menangis, seringkali tertawa, hingga sesekali kita mencintai tokoh, tak jarang pula kita benci dengan akhir cerita yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sungguh pencapaian yang panjang dan melelahkan.

Selalu menjadi hal yang menyenangkan ketika melihat cerita yang sudah kita tulis dengan berdarah-darah selesai dan di-publish. Apalagi dibaca dan dikritik oleh seseorang. Terlebih, jika kritik itu disampaikan dalam sebuah tulisan lagi. Mungkin budaya "tulisan dibalas tulisan" sudah berganti menjadi "tulisan dibalas persekusi". Dulu 4 kawan saya dipersekusi oleh anak sejurusan karena menulis kritik tentang acara ospek yang banyak jeleknya. Yap! Anak kuliahan, yang kita sebut mahasiswa, yang katanya intelek, juga bisa jadi preman dan main hakim sendiri kalau kurang membaca. 

Menulis dihasilkan dari banyak membaca. Jadi kalau seseorang tidak pernah membaca tapi bisa menulis, bisa jadi ia copy paste dari tulisan lain atau hasil tulisannya jelek. Kalau masih tidak percaya, kalian bisa bertanya ke penulis yang sudah memiliki banyak karya. Sudah pasti ia akan menjawab ratusan atau bahkan ribuan buku yang telah ia baca. Tapi, tidak melulu banyak membaca baru menulis. Bisa juga beriringan. Proses setiap orang berbeda, bukan? Tetap, membaca itu penting. 

Anehnya, kali ini saya menulis tentang menulis. Lebih aneh karena tulisan ini berasal dari orang yang jarang menulis. Saya juga jarang membaca, tidak seperti dulu. Tapi, di tengah dunia yang berjalan begitu cepat, mungkin, menulis adalah sarana yang tepat untuk menikmati waktu. Toh, setidaknya saya membuat kalian membaca sampai akhir, kan? Hehehe.

Tabik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIAT MENGHADAPI UMUR 27

Cuti Patah Hati

The One With Not to Fail In Love