Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Menolak Definisi Kebahagiaan Orang Lain.

Melihat linimasa twitter yang belakangan berisi penjemputan Imam Besar, katanya, sangat membuat saya heran takkaruan. Bagaimana tidak? Aksi Menolak Omnibus Law yang terjadi bulan lalu dibungkam aparat dengan bengisnya. Sekarang? Dikawal! ya, dikawal! Saya tidak menyalahkan penjemputannya, tapi sama-sama ngumpulin massa, kenapa perlakuannya berbeda? Sudah, bukan kompetensi saya membahas hal seperti itu. Tetapi ada sedikit pemberitahuan di sana, twitter, yang cukup mengagetkan yaitu balasan dari karib saya untuk  tulisan saya  yang biasa saja. Memang, kalau belum mengalahkan dengan telak, ia tidak akan tenang, sungguh sifat yang wajib dimiliki fans liverpul.  Ia membalas tulisan saya dengan membahas tubuh, lebih tepatnya keambiguan tubuh, saya juga tidak paham . Karena memang kita tidak memahami tubuh kita. Bahkan, kita juga tidak berkuasa atas diri kita sendiri, terlebih kepada orang terdekat kita. Sedari kecil, kita memang tidak memiliki hak penuh atas diri kita. Saat kit...

SAYA DAN TULISAN YANG BIASA SAJA

 Saya adalah orang yang tidak pemarah, mau dikalahkan, sangat tidak kompetitif meskipun sangat banyak kompetisi, tapi berbeda dengan pencapain. Namun, tetiba saja semua sifat pemalas saya berubah sejak diusik di twitter oleh akun SJW yang kini gondrong lagi, @pamujism . Kami ditempa dalam madzab yang berbeda, saya menganut paham pujonism, sedang ia menganut rijalism. Perbedaan madzab inilah yang membuat kami berdua nyantol dalam banyak hal, contohnya bercandaan plesetan yang bisa berlangsung selama belasan menit.  Dia adalah orang yang sangat kompetitif, sangat mencerminkan sifat-sifat fans liverpool. Sebagai pribadi yang malas dengan kompetisi, saya hanya melakukan hal-hal yang biasa saja agar tetap bisa menyembunyikan sifat pemalas ini. Maka dari itu, tulisan-tulisan saya di blog ini hanya berisi tulisan-tulisan yang berasal dari imajinasi dan opini saya saja. Itulah alasan saya tidak mengutip banyak tokoh-tokoh besar di luar sana yang hanya saya kenal melalui tulisannya. ...

thanks god for Teater Lingkar!

Ya, tahun ini rasanya jadi tahun yang berat untuk kawan-kawan di dunia kreatif berkarya secara maksimal, termasuk saya. banyak hal yang tidak bisa saya lakukan di tahun ini. Termasuk skripsi. Tetapi, sungguh, ini adalah hari yang menyenangkan. Bukan karena saya melakukan sebuah hal menakjubkan, tetapi karena teman-teman saya di Teater Lingkar bisa tetap berkarya meski kondisi seperti ini. Baru tadi diunggah di Youtube. Kalau mau menonton, bisa klik. di sini  ya.  Dalam kurun waktu 4 bulan, sudah ada dua pementasan yang menurut saya layak tayang. Pada pentas pertama saya jadi sutradara. ternyata susah menyutradarai orang yang mudah panik, di disko pula. Kemudian, pada pentas kedua saya mencoba jadi support-system yang baik. Tetapi kemarin sempat dimarahi sutradara karena ketika rapat saya mengacau. Padahal kan biar seru ya. Hehehe. Ohiya, hebatnya lagi semua orang yang bekerja di sini adalah angkatan 2019, yang artinya baru setahun di sanggar. Anak kemarin sore yang sangat berb...