Postingan

hidup tidak lagi menyebalkan

Sebanyak apapun peristiwa yang kamu lalui, hidup hanya tentang jatuh dan bangkitnya dirimu. Lihatlah dirimu di usiamu kini, begitu banyak hal-hal yang kamu sudah lalui. Entah sedih atau bahagia, entah membuat tertawa atau mengantarkan kita di pojokan kamar dan menangis tersedu hingga terbesit pikiran untuk memotong nadi agar hidup segera berakhir atau menyileti tubuh sendiri agar tangis lenyap. Ya, kita tidak bisa menghindari kejadian-kejadian yang akan kita alami, bahkan memilih peristiwa yang akan kita alami. Itu adalah hal yang tidak mungkin. Namun, menghadapi dengan sekuat-kuatnya diri adalah satu-satunya pilihan yang harus dipilih. Banyak hal yang sudah kita lalui. Hal-hal di rumah seperti mencuri uang ayah untuk sekadar membeli barang-barang kesayangan, beralasan kerja kelompok agar punya waktu lebih untuk berpacaran, membawa pacar ke rumah ketika ayah dan ibu sedang ke luar kota, membuat ayah dan ibu tersenyum ketika menjuarai lomba balap karung antar RT, berdebat tentang masa ...

Mata Sunyi

aku selalu mengingat  waktu-waktu terbaik kita. betapa toko buku, jalanan,  malam, setiap detik, dan senyuman  terjebak dalam hujan dan ciuman  memilih di bintang mana kita nanti akan tinggal terkadang membuat beban satu per satu tanggal lalu, senyumanmu yang memudar mata yang taklagi bersinar bibir yang lebih sering tertutup menyembunyikan duka yang meletup kesedihan bersembunyi  dibalik kata dan tawa kata-kata yang sunyi tawa yang elegi tapi, kau tahu aku tercipta  untuk suka dan duka tanpa kata-kata — milikmu. Madura, 16 Desember 2018

CINTA DAN DARAH

CINTA DAN DARAH Aku melihat banyak orang datang mengunjungi rumahku. Pagi serasa lebih gelap. Senja serasa hal yang suram. Gelap adalah malam yang tak pernah berakhir. Hujan adalah runtuhan meteor yang langsung mengenai hatiku. Waktu serasa kematian yang siap menjemput siapapun. Dan pada keramaian itu pula, aku terhempas pada ruangan tanpa sedikitpun cahaya yang menerangi. Semua berakhir ketika aku melihat wajahmu disela-sela keramaian orang. Hari ini begitu ramai dengan orang-orang yang berpura-pura. Ada yang pura-pura mengenal. Ada yang pura-pura tak memiliki kebencian. Ada yang pura-pura melupakan amarahnya. Ada pula yang pura-pura setia. Selain orang-orang yang pura-pura, aku melihat juga beberapa orang yang mendadak tobat. Mungkin, kematian adalah saat yang tepat bagi orang-orang untuk mendapatkan perhatian dari Tuhan. Keramaian ini membuatku begitu menyadari bahwa ada yang kubenci dari perkembangan teknologi. Bagaimana tidak? Kabar yang tak kusebar saja bisa mendatang...

Elegi

Aku tak pernah mengagumi mata cokelatmu Walau ia membuatku terpana pada pandangan pertama kita Dan kau bertanya "Bagaimana jika aku buta, dan kita tak pernah berpandangan?" Aku tak pernah mengagumi suaramu ketika bercerita Walau saat itu malam membisu dan kita menyatu Dan kau bertanya "Bagaimana jika aku bisu dan tak bisa bercerita lagi?" Aku tak pernah mengagumi gigimu yang rapi Bahkan ketika kau tersenyum tanpa pamrih padaku Dan kau bertanya "Bagaimana jika aku ompong dan tak bisa tersenyum seperti sekarang?" Akutak pernah mengagumi rambutmu yang cokelat Bahkan ketika kau berjalan dengan matahari dan aku memandangi dari kejauhan Dan kau bertanya "Bagaimana jika aku mengalami kebotakan dan tak ada rambut yg menyelimuti kepalaku?" Kekasih, aku mengagumimu tanpa tetapi, seperti aku mencintai mawar beserta durinya Aku mengagumimu tanpa tanda tanya, seperti aku yang tak pernah bertanya kenapa kau pergi tanpa tanda. Malang, 1...

Perpindahan

Aku berjalan dalam kesunyian Saat ratusan lampu menyala redup Jingga mengintip bersama sebuah nyanyian Mereka tahu aku tak benar-benar hidup Lalu sebuah kabut pagi -yang menjadi titik embun pada dedaunan Menyadarkanku Sebab kesia-siaan tak pernah sia-sia. Malang, 6 mei 2018 Didedikasikan untuk Iftitah Nadhiro

PERTEMUAN

Karya M. Fianda Ruly Ananta Pada sebuah hari dimana ini merupakan hari terbaikku. Aku yakin pertemuan ini akan hangat dan penuh dengan tawa. Dihiasi dengan alunan jazz—yang memang sudah kusiapkan sebelum kita akan bertemu. Anggur, aku yakin, dia pasti akan terasa manis—hingga pipiku nyeri dan aku kebingungan untuk meredakannya. Dan kau, Puan, pertemuan kita pasti akan menghadirkan gambar di benakku untuk waktu yang sangat lama. Tentang bagaimana kau tersenyum dan tertawa terpingkal-pingkal karena aku sudah merencanakan semua itu, kekasih. Aku sudah mencari apa yang kau suka, apa yang kau biasa tertawakan, dan apa yang membuatmu bersedih. Sudah kupersiapkan semua itu seperti pemaparan proyek kepada Sang Penguasa. Karena aku yakin, kau adalah isyarat Tuhan padaku untuk melabuhkan sejuta keluh kesah dan kelelahanku pada dunia yang tak punya identitas pasti. Hari itu tiba, waktu yang sudah kita sepakati tidak kita khianati. Kau datang tepat pukul 4 sore, di tempatku. Ya, ketika senj...